Entry: halif Khaelani Monday, September 28, 2009



Akhir January 2009
Semua berawal dari sebuah telephone yang saya terima beberapa hari setelah acara Kick Andy itu ditayangkan, suara pria yang cemas menceritakan tentang kondisi kemenakannya. Saya Masih ingat, ketika itu saat menerima telephone dalam kondisi sangat tidak konsentrasi karena sedang berada di atas motor, di bonceng oleh teman pulang menonton pertunjukkan di Taman Ismail Marzuki.

Dari suara yang berhasil di dengar dan dapat mengerti karena bising oleh jalanan Jakarta, di ceritakan bahwa ada anak yang berstatus keponakan sedang terbaring sakit karena menderita Leukemia, penyakit yang membawa saya kepada acara TV itu dan perkenalan ini. Lalu, karena pertimbangan untuk penguatan mentalnya agar bertemu dengan orang yang pernah mengalaami hal yang sama, maka sang paman yang kemudian saya kenal bernama Tachir, meminta saya untuk menengok anak tersebut.

Saya menyanggupi, karena Insya Allah saya memang meniatkan agar kehadiran saya dapat memberikan semangat dan meringankan beban, walau saya tau bukan menyembuhkan. Faktor semangat dan daya juang untuk bertahan hidup sangat berkorelasi dengan proses kesembuhan seorang penderita kanker. Bertolak dari kesadaran tersebutlah saya menyanggupinya. Di buatlah janji unuk bertemu dan berangkat sabtu esok harinya.

Awal February 2009
Siang itu, ketika Jakarta sedang panas panasnya, saya berjalan di trotoar tepat di depan kedubes Australia, lagi telephone saya berbunyi, kali ini permohonan maaf dan maklum, karena janji untuk pergi ke Rawamangun *tempat ponakan Mas Tachir tinggal* untuk minggu ini di tunda. Saya menanyakan alasannya, dan di katakan ini karena permintaan Khalif *nama anak yang sakit tersebut sendiri*.

Hmm, sejenak saya bingung, namun akhirnya saya sadar bahwa saya lupa, yang sakit itu adalah anak kecil, masih usia Sekolah Dasar, mempunyai cara pandang dan pola piker yang berbeda dengan kita manusia dewasa. Dari apa yang di tuturkan oleh mas tachir saya menangkap alasan keberatan atas kedatangan saya karena Khalif belum bisa menghadapi orang asing, apalagi yang dterima olehnya adalah orang asing yang menengok karena pernah bernasib yang sama.
Saya Sangat dapat memahaminya.

Antara April dan Mei 2009
Selang beberapa bulan setelah komunikasi yang terakhir, saya mendapatkan telephone lagi, kali ini berita gembira. Khalif sudah mengalami perbaikan, kondisi badannya cenderung stabil, walau belum pernah melihat sosoknya, namun saya langsung membayangkan teman kemotherapi saya yang dulu juga berusia Sekolah Dasar, yang kemudian bisa ceria dengan kepala gundulnya, Ahh..semoga Khalif membaik seperti teman Saya itu dulu.
Saya tersenyum, berita ini saya anggap pertanda baik, karena motivasi dan semangat adalah obat terampuh untuk melawan kanker selain kemotherapi.
Semoga ya Allah…

Setelah berita yang menyenangkan itu, nyaris tak ada sama sekali informasi tentang Khalif, mas Tachir yang dulu sering mengabarkan kepada saya kondisinya kini tak lagi ada khabarnya. Saya sendiri pun, sibuk dalam irama kerja serta semua hal dalam hidup yang menjadi tanggung jawab membuat saya juga tidak sering mengecek kondisinya.

Pernah satu kali seingat saya, berusaha untuk menelphone, namun nomer CDMA satu satunya yang di pakai oleh pamannya Khalif untuk menelephone saya dari pertama tersebut tidak aktif, setelah itu tak ada lagi berita dan usaha saya.

Sampai malam ini…

25 September 2009 pukul 22.34
Libur lebaran saya berada dirumah ibu di Serang, setelah kembali ke kamar saya yang selesai d semproti obat anti nyamuk dari sejam yang lalu, seusai menunaikan shalat isya dan sempat *ada hubungannya atau tidak* menonton Kick Andy Episode Korban Lapindo, saya mencek HP yg tertinggal d kantong celana di dalam kamar , lalu mendapatkan SMS dari mas Tachir berbunyi demikian:
"Mas keponakan saya sudah gak ada, Terimakasih atas saran saranya dan mohon doanya untuk Khalif Khaelani.Thx.Tahir."

Saya kaget, terdiam sejenak, dan hanya bisa menuliskan Innalillahi….pada kolom kosong reply sms, tanpa tau apa yang harus saya tuliskan lagi. Cukup lama kursor di layer HP ber kedip kedip tanda meminta jawaban dan apa yang saya fikirkan…akhirnya saya
menyampaikan maaf yang sebesar besarnya karena tidak bisa maksimal membantu.

Teriring doa saya untuk Khalif, anak yang tak pernah saya lihat wajahnya, rekan saya yang akhirnya di panggil sang Khalik dan sudah menunaikan tugasnya di dunia, "semoga Khalif menjadi syuhada yang sebenar benarmya, berdiri dan berdiam di mimbar Illahi bersama para syuhada pendahulu, menjadi warga penghias syurga dan menunggu saatnya berkumpul bersama orang tua dan keluarga nya nanti."<i/i>
Amienn..

   0 comments

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments