Entry: They Dance Alone Friday, April 17, 2009



    Dalam jiwa manusia ada sebuah tempat untuk mengedepankan rasa, dan me-nomordua-kan logika, tempat yang memberikan waktu bagi diri manusia tersebut melakukan kontemplasi , merenungkan tentang hakikat dirinya, menikmati hal yang indah bersifat seni dan disukainya, merasakan pedih yang ingin di kenang, merasakan memory yang sudah lama lepas dari bayangan.


   Setelah lama hidup di kota besar dan selalu mengedapankan logika untuk bertahan hidup, keinginan mendengarkan suara hati dari sudut yag lain itu kadang mengemuka,  terkadang bukan karena tidak mempunyai waktu namun karena waktu yang tersedia tidak selalu tepat untuk mendengarkan suara hati tersebut.

Waktu yang bagi saya sebut sebagai “Menari sendiri”. 

*Penamaan  untuk suasana seperti itu terinspirasi dari lagunya Sting “They Dance Alone”*

Waktu special milik diri kita pribadi tanpa campur tangan pihak manapun dan kita bebas memikirkan apa yang ingin di fikirkan, berandai andai, mengingat ingat lalu merenungkan semua yang ada lalu bagi saya menuliskannya dengan lancar , tulisan itu mengalir deras seperti air sungai mengalir mengikuti arusnya.

 

    Saat seperti itu juga akan membuat kita merasa lebih dekat dengan Tuhan, bentuk lain dari sebuah tahajjud, jika dalam tahajud ada gerak rakaat yang harus di implementasikan namun yang ini bagai sebuah doa setelah tahajjud, moment ini adalah saat Tuhan dan penciptanya begitu dekat, bisa berkomunikasi dengan segala cara, dapat berkeluh kesah dan mengadukan semua yang ingin di kadukan unuk kemudian mendapatkan pencerahan serta semangat baru kembali

 

Tanpa disadari jaman menjauhkan manusia dari dirinya sendiri, semua tuntutan dan keadaan yang di kondisikan agar dapat di penuhi sesegera dan secepat mungkin membuat manusia pontang panting untuk memenuhinya, lari secepatnya sehingga dapat membuat dirinya lari dari nilai kemanusiaan yang seharusnya tidak ikut di tinggalkannya.

 

    Kemanusiaan itu kembali mengemuka justru ketika disaat manusia tersebut terjatuh atau gagal, dia akan kembali kepada diri dan kepada penciptanya, berkeluh kesah dan menyalahkan apapun yang mungkin jadi penyebab situasi yang tidak menguntungkan tersebut, sebaliknya apabila sukses, dirinya akan semakin ditinggalkan, dan juga sang Pencipta yang menjadi penentu terlupakan, seakan tangan Tuhan tak bermain dalam percaturan hidupnya.

 

    Demikianlah hidup, nilai nilai kemanuisaan kadang sedikit terpaksa harus kita hidupkan kembali, untuk sekedar mengingatkan bahwa diri kita adalah manusia. Manusia yang tidak hanya membutuhkan kepuasaan dunia sebagai sumber pemuas dahaga satu satunya namun juga dahaga bathin yang  harus mendapatkan porsinya, sebelum hakikat kita sebagai makhluk ikut terserabut.

 

Saatnya menari sendiri ...

 

   2 comments

obrolan
August 30, 2010   05:53 PM PDT
 
Really great and interesting story. You do an excellent job. Keep it up and thanks for the post.
gXp
April 18, 2009   07:30 PM PDT
 
Bernyanyilah dan terus menari.. :)

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments