Just an Ordinary Human
|
 |
Tuesday, July 11, 2006
Kembali keJogja
Kembali kepada kenangan seminggu berada didaerah pasca bencana, kembali kepada tempat dan semua orang yang pasti akan berkaitan dengan memori ttg gempa.
Ya …Weekand kemarin dengan bantuan beberapa teman akhirnya dapat terwujud keinginan untuk tetap eksis membantu walau dalam skala yang sangat kecil, memberikan sedikit dari sesuatu yang mungkin masih bisa di bagi.
Jumat, 7 July 2006
Berrencana untuk naik flight tapi apa daya tangan tak sampai, berdua dengan salah seorang teman baik, mbak Etty yang saya jumpai dulu ketika kita sama sama bertugas didapur umum pasca gempa. Memang rencana untuk kembali ke Bondalem tempat kita pernah menjadi relawan memang sudah lama dibicarakan, dan sekarang bisa terwujud.
Bertemu terlebih dulu dengan Bagus, yang ternyata sudah menunggu di Gambir, membawakan sekardus oleh oleh untuk anak anak Jogja. Setelah mencari Makan malam disekitaran Gambir berdua bagus , kita bercerita ngalor ngidul sambil menunggu mbak Etty datang. Malam itu kereta telat berangkat sampai satu jam, dari jam 08.40 malam menjadi hampir jam 09.40 cerita berlanjut ditingkat atas statsiun Gambir setelah mbak Etty datang. Capek juga berdiri sambil ngobrol akhirnya kita duduk lesehan di anak tangganya.
Ketika kereta datang kondisi badan sudah capek banget, karena seharian kerja dan malamnya langsung berangkat. Setelah mencari dan mendapatkan tempat duduk sesuai dengan nomer saya tertidur pulas, sudah tak ingat lagi cerita mbak Etty yang duduk di kursi sebelah saya.
Sabtu, 8 July 2006
Datang menjelang pagi, sampai diWates saya baru terbangun, Mbak Etty disebelah saya sampai terkagum kagum dengan kemampuan tidur saya di kereta, otomatis malam itu dia tidak ada yang menemani, buku yang saya siapkan untuk dibaca selama perjalanan masih tersimpan rapi dibagian depan ransel.
Hari itu perjalanan menapak tilas dimulai, menghubungi MediaNet dan Teman teman diposko kesehatan yang hari itu kebetulan adalah hari terakhir mereka bertugas.
Setelah mandi dan makan, dengan mengendarai motor, saya dan Mbak Etty diantar oleh dua orang teman dari Jogja.
Sampai dilokasi sudah menjelang siang, barang barang sumbangan yang kita bawa kali ini adalah, buku gambar dan peralatan menulis serta crayon dan juga buku cerita anak yang jumlahnya cukup untuk sebuah posko.
Berjumpa dengan teman diposko kesehatan, tampak wajah Homesick karena mereka sudah 2 minggu berada dilokasi. Berjumpa kembali dengan pak Pardi sesepuh desa Bondalem yang merasa surprised bisa melihat saya kembali, dan juga berjumpa dengan ibu ibu dari dapur umum yang mengatakan sudah lupa dengan nama saya.
Diantar oleh pak Padi, kita pergi ke posko tempat bermain anak anak/trauma centre dan baru ditinggal beberapa hari yang lalu oleh kaka pengasuhnya dari ITB.
Posko ini juga yang juga dipakai untuk belajar di siang hari, tempatnya didepan TK Bondalem yang masih berdiri beberapa bangunannya.
Dikenalkan dengan Mbak Anna yang mengasuh tempat bermain, antusias sekali menerima kedatangan kita dan mengucapkan terimakasih atas bantuan yang diberikan siang hari itu.
Kondisi
Bondalem sudah sedikit berubah, bangunan SD yang runtuh dulu sudah dibersihkan, beberap tukang nampak sedang membuat pondasi baru untuk bangunan yang baru, satu rumah knockdown tahan gempa (katanya) sedang dibangun juga tepat dibelakang reruntuhan SD.
Dikampung Bondalem dan Cepoko serta Bekelan, keadaan tidak banyak berubah. Rumah masih belum ada yang didirikan lagi, hanya Tenda sudah dibagikan untuk masing masing KK. Tak ada lagi pengungsi yang mendirikan tenda dipematang sawah atau ditepi jalan. Semua sudah menandai rumah mereka dengan mendirikan tenda diatas pondasinya. Entah kapan tenda itu brubah wujud menjadi rumah kembali.
Aktiftas masih sepi karena siang hari, lalu saya menyempatkan diri untuk membelikan minuman tambahan dalam bentuk susu cair dan susu kedelai untuk anak yang akan datang belajar nanti sore.
Semua bantuan itu akan dikelola oleh mbak Anna disana.
Pulang sore harinya dan malam kita berkeliling mencari angkringan di Jogja, sempet SMS Unai dan jeng Isna, tapi mereka urung datang karena ada kepentingan lain.
Akhirnya diputuskan untuk tetap ke angkringan dekat lapangan Pakualaman, lalu makan di Maharani daerah melati (something saya lupa).
Setelah itu melajutkan malam di angkringan atau café daerah Timoho..
Minggu, 9 July 2006
Hari persiapan kepulangan, hari untuk membeli oleh oleh, mampir ke Malioboro, pilih sana sini di Mirota batik, dan Jeng Isna tercinta bisa nongol juga, walau agak telat karena harus nunggu masakan sayur asemnya matang dulu.
Beli baju koko dan piyama buat ponakan serta satu baju batik buat ngantor hari Jum`at juga Tshirt dari Mirota.
Bersama rombongan kecil kita menghabiskan siang di sekitaran Malioboro dan Beringharjo. Banyak lagi yang ingin dikunjungi tapi saya memilih untuk mapir dulu di Toko buku Togamas di jalan Gejayan, katanya disana selalu ada didiskon dan plus sampul untuk buku yang kita beli. Beli dua buku Kumpulan cerpen dan satu buku Biografi tokoh tokoh sastra pemenang Nobel.
Jogja harus ditinggalkan malam itu, sekitar jam 9 malam, kereta Argi Dwipangga datang untuk berhenti sebentar di Jogja dan membawa saya ke realitas kehidupan di Jakarta.
Terimakasih untuk :
- Pribagus dan DQ untuk sumbangannya
- Bunda Farrel untuk support dan dukungannya
- Mbak Etty, dan teman teman setia di Jogja
- Juga buat Isna, serta masyarakat Dusun Bondalem Sumbermulyo Bantul
Semoga dipanjangkan umur dan bertemu lagi dengan Jogja yang sudah bangkit dan jauh lebih baik dari hari yang saya lihat kemarin. Tak ada tulisan ini dan kedatangan kemarin tanpa bantuan kalian semua. TERIMAKASIH
Posted at 03:12 pm by alnash
Permalink
Thursday, July 06, 2006
Weekand kemarin ketiban durian runtuh, marketing kantor kasih tawaran untuk escort satu perusahaan oli company yang lagi ngadain acara outbound diLidoSukabumi.
Awalnya sempat mikir juga, karena weekand sayang waktunya dan hanya sebagai escorter bukan peserta takut gak bisa ikut gabung buat main, tapi hitung hitung side job akhirnya diterima juga tawaran tersebut.
Hari Jumat tanggal 30 siang sudah meluncur ke kantor oil company itu yang ada di bilangan Rasuna. Mampir dulu untuk beli under wear karena lupa waktu packing packing di rumah, setelah ketemu dengan size yang diinginkan akhirnya keluar dari tempat itu segera ketempat yang dituju.
Sesampai disana sudah banyak anggota rombongan yang standby, bahkan mobil bis yang akan membawa kita ke Sukabumi sudah terparkir didepan gedung.
Waktu mau berangkat ada kejadian yang tidak mengenakkan, karena seorang peserta sudah mengalami accident, karena kakinya terkilir di trotoar jalan.
Perjalanan  K e Lido dari Jakarta perjalanan lancar dan mobil yang kita tumpangi datang menjelang maghrib, setelah mendapatkan kamar semua peserta bersiap untuk beristirahat, sebelumnya ada briefing tentang acara yang akan di adakan besok, EO outboundnya adalah OBET NUSANTARA serta untuk arung jeramnya adalah RIAM JERAM.
Hari Pertama
Pagi hari sudah berkemas, acara dimulai sekitar jam 7, sebelumnya kita berkumpul setelah makan pagi dan siap untuk menyeberangi danau Lido kepulau tempat dilakukan outbound. Sebetulnya itu bukan pulau tapi masih satu daratan yan dipisahkan oleh danau Lido, hanya kita menuju tempat itu dengan bantuan rakit jadi seolah olah kita dibawa kesebuah danau.
Tempatnya luas ada lapangan terbuka dan sebuah lagi untuk arena bermain flying fox dan High Victory.
Lapangan dipakai untuk arena bermain yang tidak beresiko, lebih untuk melatih kerjasama seperti permainan bamboo kelerang dan Latihan yel yel group. Oh iya, ketakutan saya tidak menjadi kenyataan karena saya ternyata ikut disemua kegiatan bahkan dipermainan yang saya tunggu tunggu Flying Fox (terjun dan meluncur dari ketinggian dengan batuan seutas tali yang diikatkan pada safety belt dibadan kita) dan High Victory (permainan keseimbangan berpasangan dari ketinggian 10 meteran dengan berdiri diatas tali menuju dari satu tiang menuju tiang berikutnya).
Acara berlangsung sehari penuh dari, bahkan setelah acara di"pulau"itupun malamnya masih ada acara perpisahan dan api unggun.
Hari kedua
Saat yang ditunggu, karena akan ada acara arung jeram di sungai Cicatih Sukabumi. Waktu tahun baru kemarin pernah melewati daerah ini, dan melihat spanduknya tapi belum tahu bagaimana dan kapan bisa mencicipi arung jeram disana, karena dari info yang didapat sungai Cicatih salah satu sungai yang debit airnya konstan alias gak terlalu kering kalau di musim kering atau bisa tiba tiba banjir, karena di hulunya ada sebuah PLTA yang siap mengucurkan air kalau kekurangan atau menhan kalau terlalu tinggi debitnya.
Perjalanan ke starting point dimulai dari pemancingan Derry di pinggir jalan raya Pelabuhan ratu, memasuki jalan kecil untuk menuju daerah Sindang Kerta, jalan kampung yang ditempuh dalam waktu satu jam dengan mobil kecil sewaan.
Arung jeram A.Ka Rafting
Arungjram adalah salah satu olah raga yang dikategorikan sebagai extreme sports yang mampu memicu adrenalin seseorang hingga mau untuk melakukan lagi, lagi, dan lagi. Bagi orang normal, olah raga satu ini dianggap sebagai upaya bunuh diri belaka, namun tidak demikian bagi mereka yang menyukai tantangan. Sebenarnya apa sih arung jeram atau yang akrab dikenal dengan istilah rafting tersebut? Olah raga ini menggunakan perahu karet dan menempuh sungai yang biasanya memiliki arus deras. Olah raga ini diakui memang memiliki tingkat kesukaran tinggi, namun bahaya bisa dihindari bila para pelakunya mematuhi prosedur keamanan yang telah ditetapkan. Tidak hanya itu, arung jeram juga bisa melatih kita untuk bisa mematuhi perintah atasan. 'Atasan' yang dimaksud disini adalah pemimpin dalam sebuah perahu karet yang biasa disebut pengendali, yang berperan sebagai komandan sekaligus penentu nasib para awaknya. Tanggung jawabnya tidak main-main lho, ia memegang tanggung jawab penuh untuk memerintah para awaknya.
Persiapan
Sebelum memasuki sungai kita diberi pengarahan dan aturan aturan dasar bila melakukan olahraga ini, car menggunakan pelampung dan juga cara menolong dan meminta tolong kalau nanti tercebur. Selain itu kita melakukan stretching ringan dan pembagian orang dalam satu perahu. Saya masuk dalam perahu team rescue terdiri dari 4 orang dari Riam jeram dan saya sendiri yang pemula, sementara perahu lain diisi oleh 4 atau lima orang terdiri dari satu pemandu dan sisanya adalah anggota…Im feel so save honey!!
Perjalanan
Arung jeram hari itu ditempuh dalam jarak 12 KM dan akan meewati sekitar 22 riam besar dan kecil, menurut informasi dari pemandu riam yang tekenal adalah riam bernama Roller coaster yang mempunyai dua lekukan arus deras dan salah satunya sempit sekali sehingga usaha menghindari ruas sempit itu yang menyebabkan perahu terbalik.
Rafting atau arung jeram memang menyenangkan. Selain bisa menikmati pemandangan di kiri kanan sungai yang hijau, kita juga harus melakukan kerja sama yang kompak dengan rekan-rekan seperahu. Ketika guide mengatakan 'maju', maka kami berempat harus mendayung maju. Demikian juga kalau guide mengatakan 'mundur', kami mendayung mundur. Kalau ada yang tidak kompak mendayung, maka perahu bisa jalan di tempat. Atau ketika guide sudah mengatakan 'stop', tapi masih ada yang mendayung, maka perahu menjadi terlalu laju saat mengarungi jeram. Akibatnya perahu bisa terbanting aliran air yang deras.
Di Perahu yang miring membuat orang yang duduk di tepi perahu kehilangan keseimbangan dan segera disambut ombak air sungai. Tapi tidak perlu panik. Biasanya guide dengan sigap akan menangkap jaket pelampung orang itu, atau teman-teman seperahunya pun bisa melakukannya. Kalau pun orang yang jatuh ke luar perahu itu tidak terjangkau rekan-rekan seperahunya, ada perahu tim rescue (perahu saya)-jaga sepanjang perjalanan. Orang yang baru pertama kali mengikuti rafting, tidak perlu kuatir mengenai kejadian yang mencelakakan. Kalau memang takut, maka duduk di dalam perahu membuat orang aman dari risiko jatuh ke sungai. Arus sungai Cicatih yang tidak ganas serta guide berpengalaman membuat risiko perahu terbalik semakin kecil. Kalaupun jatuh ke luar perahu, jaket pelampung membuat kita tidak akan tenggelam.
Pada saat melewati riam Roller perahu rescue yang saya tumpangi behenti dan saya berdiri di batu sungai sementara 4 orang anggota team rescue melakukan upaya preventif penyelamatan, namun satu prahu peserta tetap melewati celah yang curam itu sehingga mereka tercebur dan hanyut kira kira 2.. meter, salah seorang peserta sempat lepas dan hilang kacamatanya dan peserta ibu ibu, muntah muntah karena menelan banyak air sungai waktu terseret air.
Kejadian itu tidak berlangsung lama, setelah suasana aman lagi kita melanjtukan perjalanan. Ditengah perjalanan ada tempat istirahat dan kita bisa minum air kelapa muda dan gorengan yang disediakan operator Arum jeram.
Akhir
Petualangan rafting hari itu berakhir didekat jembatan kampung Cilandak,dan setelah berbasah basah seharian itu kita menuju tempat keberangkatan di Pemancingan untuk bilasan dan ganti baju. Hari itu Cukup sukses karena hanya satu perahu yang terbalik tanpa cedera yang sangat berarti.
Thanks God buat experience nya…semoga nanti dapat kesempatan lagi..yang mau rafting silahkan contact saya..:P
Posted at 02:09 pm by alnash
Permalink
Thursday, June 29, 2006
Ayah,bapak atau apapun namanya sosok yang memberikan jalan bagi kita untuk jadi manusia, Sosok yang SEHARUSNYA jadi pelindung, tempat penyelesaian sebuah permasalahan bukan sosok dimulainya sebuah permasalahan. Dia ada tapi seperti tak ada, atau lebih baik kalau dia memang tak ada? "Dia mulai lagi" Rino memulai pembahasannya sore tadi. setelah lebih dari setengah jam kita berdua ngobrol ngalor ngidul gak tentu arah. "Kenapa lagi bokap lo.." cukup lama juga dia tidak pernah lagi mengeluhkan ketidak cocokan dirinya dengan sang bapak
Rino hanya menghela nafas panjang, aku hanya membiarkan sahabatku itu bermain
dengan pemikirannya sendiri, nampak berat untuk memulai aku putuskan untuk diam, biarkan lah dia memutuskan buat bercerita
atau tidak. "Sudah
beberapa bulan ini suasana di rumah gw agak adem…tapi kemaren dia cari
gara gara lagi" aku mendengarkan tak memberi komentar. "Malam
kemaren waktu gw baru pulang, habis mandi gw
pergi ke kamar tengah buat nyalain TV, gw gak tau bokap belum tidur, gw lagi
asyik liat liputan pertandingan bola tiba 2 dia masuk ruangan TV dan dengan
entengnya dia ambil remote lalu TV di matiin, kayak ga` ada siapa2 diruangan itu".
"Tanpa basa basi dulu" tanyaku. '"Iya,sama sekali ga ngomong…..!!"nadanya mengencang menegaskan. "Gmana gw mau betah dan merasa comfort dirumah gw sendiri, bahkan buat nonton TV aja kayaknya udah gak ada hak". mukanya menunjukkan sekali guratan kekecewaan.
"Mungkin dia ngerasa terganggu " tukasku tanpa maksud membela aku coba buat menenangkan dia. "kencang
dari hongkong,gw tuh pasang mute TV ,malah gw nonton kayak maling gak
pake suara" Ups..suaranya meninggi, ternyata kataku untuk menenangkann dia salan.
"Trus lo cabut..jalan keluar rumah lagi…? "Enggak..gw
capek, sudah seharian gw diluar rumah, gw pergi kekamar aja dan tadi
pagi gw pergi sebelum dia bangun." dia berkata melihat keaah jendela.
Dibandingkan
denganku, Rino mungkin lebih beruntung,itu versiku dia masih punya bokap sampai
sekarang, sementara gw untuk inget wajah
bokap aja gw harus berupaya mengarahkan memory apalagi buat mengingat
moment apa yg pernah kita jalani bersama.
Bokap sudah "jauh" dari
aku kecil dan kemudian datang dalam kehidupanku lagi setelah beliau
sakit-sakitan dan beberapa tahun kemudian meninggal. "Masih mending kayak gw kali ya No ,dari pada kayak elo punya bokap malah nge-resein" aku tertawa memperbandingkannya. "Ya kali…gak ngerti deh gw" katanya sambil mengangkat bahu. ********** Sebetulnya ini bukan cerita pertentangan Rino dan bapaknya yang pertama kalinya aku dengar,
tapi setelah beberapa lama tak mendengarnya , aku berharap bahwa
segala permasalahan antara Rino dengan bokapnya sudah mencair, karena
aku tau Rino sudah berusaha sekali untuk jadi anak yang baik di mata
bokapnya . Dengan cara seperti bekerja di tempat yang dipilihin sama
bokapnya walaupun gw tau bahwa jenis pekerjaan itu bukanlah impiannya.
bahkan dia Kuliah di tempoat dan fakultas yang dititahkan oleh sang
bapak.
"Gw
hanya merasa di perlakukan gak adil Al…kenapa dia gak bisa bersikap
sama terhadap gw seperti sikap yg dia perlakukan terhadap adik adik gw. Kenapa
dia gak pernah bias bicara sama gw , atau sedikit menanyakan keadaan
gw.Gw butuh juga disapa ama diakan? ,gw anaknya bukan orang lain dirumah
itu". keluhkesahnya berlanjut. "Kenapa gak lo dulu yang coba nyapa dia,berbasa basilah…."saranku "Sudah, sudah capek gw tapi gak di anggap..gw pernah dimarahin setelah gw cuciin motornya...anehkan??" Waktu
gw minta uang kuliah dulu ama nyokap,dia juga marah..kenapa gak minta
langsung kedia alasannya,waktu gw minta langsung eh dia malah ninggalin gw saat
ngomong." "Gila kali bokap lo ya…?"jawabku sambil bercanda "Sekarang apakah gw salah kalau gw lahir saat dia gak ada?katanya."Emang dia kmana ..?" . Nah untuk yang ini kau baru mendengarnya. "Diakan
pergi buat ngelanjutin kuliahnya keluar ketika mereka baru nikah
sementara nyokap ngandung gw dan baru balik setelah gw berumur 5 tahun." Rino Menjelaskan. "Iya sih, tapi apakah dia gak merasa memiliki elo juga , walaupun lo lahir dia gak ada, Jangan jangan dia ngerasa lo bukan anaknya kali..?" jawabku masih becanda….. "Enak aja lo…"si Rino meninju bahu gw sambil ketawa. *********** Kalau aku perhatikan sepintas mereka sangat mirip sebagai anak dan bapak,
bentuk badan, cara berjalan bahkan bentuk suarapun agak mirip. Aku pernah salah panggil ketika bapaknya Rino berdri didepan
pintu , dari jauh malah gw teriakin gw sangka Rino yang berdiri karena
postur tubuh mereka dan cara mereka berjalan mereka yang mirip itu. Ayah,banyak
orang yang dengan bangga menceritakan sosok itu, namun tidak dengan aku
juga tidak dengan sahabatku Rino. Kita mengingatnya dengan ironi dengan rasa
yang berbeda. Seorang ayah bagiku adalah sebuah sosok tanda tanya, yang
menguras memory untuk mengingatnya sehingga akhirnya aku anggap hanya
sebagai manusia yang kebetulan menitipkan sperma kepada ibu dan
terjadilah aku. Hanya demikian hubunganku dengannya.
Kita tidak saling
membuka konsulat kasih sayang apalagi kedutaan Cinta.Kita tak mempunyai
perwakilan di Negara hati masing masing. Parahnya
adalah sahabatku, ayahnya masih ada, sehat, utuh dan segar bugar tapi
perjanjian bilateral anatara dia dan bokapnya tak pernah terwujud
bahkan untuk sebuah agreement atau kesepakatan saling memahami. Entahlah
siapa yang salah dalam kedua kasus itu dan kami berdua mencoba untuk
tidak memikirkannya.
Beruntunglah
kami berdua tidak terjerumus kepada obat obat an atau pergaulan bebas,
dapat menyelesaikan study masing masing tapi itu pun sedikit campur
tangan dan bukan atas
bimbingan sosok yang dinamakan ayah. Kami
berkembang karena alam menuntut kami untuk berkembang.kami tumbuh
,menghadapi permasalahan hidup dan akhirnya kami pecahkan sendiri. Ketika ada teory tentang anak laki laki yang akan lebih dekat pada
bapaknya disaat kecil dan akan dekat pada ibunya ketika dewasa, maka
teory itu termentahkan sebelum kami dewasa. ********* Lo sih enak,gak harus ngeliat muka yg sebal ama lo setiap hari….Rino suatu hari pernah membandingkan. "Lo gak ngeliat juga kenyataan, orang yang harusnya jadi teman lo malah berubah menjadi musuh lo dalam perang dingin." Ketusnya. Iya sih,tapi lo juga ingat lebih baik ada dari pada gak ada sama sekali…..kataku berterory Yang ada dia malah gak terima dengan teory gw …. "Kalo gw malah milih gak ada, dari pada ada juga gak pernah bisa menjadi bokap buat gw" "Ahh..udah lah pusing gw kalau disuruh pilih mana yang paling baik…."Akhir dari diskusi itu memang sering ngambang karena kita tak tau harus menyelesaikannnya darimana. Sekarang
kita berdua berdiri,diambang kedewasaan dan membutuhkan bentuk
perhatian yang lain dari seorang ayah, pelajaran untuk menjadi laki laki
seutuhnya, pelajaran untuk kelak juga menjadi seorang bapak.tapi
darimana sumber ilmu itu kita dapat kalau yang berhak menjadi guru
malah bermasalah. Sosok yang seharusnya meraih tangan kita ketika kita
membutuhkannya malah tidak tampil dalam hidup kita berdua,sosok yang
kita harapkan menjadi pelindung disaat kami berdua lemah, tak
menampakkna kehadirannya.Walaupun ada dalam kehidupan Rino tapi dia
membatu dan tak memberikan uluran bantuan itu. Bagiku sosok itu sudah mati dan memang kenyataannnya beliau sudah mati, tapi tidak
bagi sahabatku, ayahnya masih ada, bapaknya masih hidup dan bokap yang
seharusnya jadi teman kami berdua juga seperti membelakangi kami. Bila kami tumbuh dan menjadi sosok seperti ini, tolong jangan salahkan kami.
Posted at 09:02 am by alnash
Permalink
Wednesday, June 21, 2006
Perjalanan ketanah gempa...bag 2 habis
2 Juni 2006
Setelah sehari sebelumnya prepared barang yang akan dibawa serta Memesan "kering tempe"dari rumah salah seorang rekan sebagai bekal makanan kalau disana nanti tidak sempat untuk memasak.Jam 8 pagi sudah janjian dengan sopir kantor minta diantar ke CGK.
Excited pagi itu, ingin sekali cepat sampai, karena sebetulnya jenuh juga dikantor dengan segala persiapan namun tidak tau medan yang sesungguhnya, hanya dapat khabar melalui telephone atau melihat di Televisi ttg keadaan disana.
Menjelang tengah hari pesawat mendarat, sempat menunggu diLoby bandara Jogja karena teman yang menjemput harus mengevakuasi pasien dulu ke RS Sarjito.
Hari itu Jumat, setelah bertemu dengan kawan yang menjemput, kita semua ke Masjid Kampus UGM untuk jumatan sebelum melanjutkan perjalanan.
Kesan pertama sewaktu datang tidak terlalu parah, tapi ketika mulai melewati batas kota pemandangan yang tidak mengenakan mulai mendominasi. Deretan rumah runtuh, puluhan tempat mereka meminta sumbangan kepada pengguna jalan, serta posko pemgirim bantuan ataupun relawan baik dari institusiatau dari parpol.
Menyedihkan, bencana bisa dengan sekejap merubah nasib manusia dari penyantun manjadi yang disantun.
3 Juni sd 8 Juni 2006
Hari hari yang dilalui bersama para pengungsi di posko kesehatan pedukuhan Bondalem.
Kita mempunyai beberapa kegiatan: 
Mendirikan posko kesehatan 24 jam bagi korban bancana ataupun penyakit lainnya. Melakukan pengobatan di desa sumbermulyo dan pengobatan keliling ke daerah Gunung Kidul, serta melakukan kunjungan rumah dan upaya refferal ke Unit kesehatan yang lebih tinggi untuk kasus kasus tertentu.
Mendirikan Posko trauma centre 
terutama untuk anak dan balita untuk mengatasi trauma pasca bencana, bekerja sama dengan beberapa LSM sepeti Komunitas Bocah dan Psikologi UGM serta mahasiswa ITB. Mengadakan permainan dan upaya kreatif lainnya serta membantu ujian formal UAN SD Bondalem.
Dsitribusi bantuan dan Logistik
Yang mencakup kebutuhan hidup seperti beras, minyak goreng dan gula, kebutuhan sanitasi seperti handul,odol,sabun mandi dan sikat gigi serta distribusi tenda dan selimut.Semua kebutuhan ini disupport oleh lembaga seperti IMA = Indonesian Mining Association dan Jogja Medianet.
Ada juga perorangan yang memberikan (Lucy,Unai,dan ISna dan teman temannya) yang sudah datang dan menberikan kepercayaan distribusi bantuan melalui posko Bondalem.
9 Juni 2006
Hari hari diBondalem harus berakhir karena tahap tanggap bencana sudah berlalu dan crew yang dtugaskan dikurangi, hanya menyisakan satu dokter dan 2 paramedis tanpa coordinator.
Berakhir juga keberadaan saya selama seminggu diposko tersebut tapi saya membawa banyak oleh oleh yang harus dikerjakan diJakarta.
Seperti mencari dana dan mengumpulkan bantuan bagi kelangsungan hidup trauma centre yang ada di Bondalem melalui Komunitas Bocah cilik Jogja serta mengkoordinasi team kesehatan yang masih bertahan dan mengupayakan penggantinya untuk kelanjutan posko tersebut.
Alhammdulillah sampai saat ini semua masih berjalan, team yang bertahan disana akan diganti dengan personel yang baru hari Jumat besok serta kegiatan trauma centre dan pelayanan pendidikan anak masih berjalan namun tetap diharapkan peran serta teman teman semua.
Terimakasih untuk :
· Unai dan Lucy dan rekan dari Jakarta dan Jogja yang sudah susah payah mengantarkan bantuan sampai pelosok (pake acara nyasar).
· Isna dan Alfie serta rekan2 diposko Satria yang membantu proses distribusi.
· Rekan dikomunitas Bocah; Mbak Ellie,Etty,Lia,Cisca yang sudah "menghidupkan" dapur umum membuat saya bebas dari kewajiban memasak.
Kegiatan komunitas bocah bisa dilihat disini dan disini
· Rekan mahasiswa ITB ; Dolly,Iin ,Vero dan Fajar yang dijemput dimalam buta.
· Rekan rekan kerja,rekan Medianet,Kolega dari IMA,UGM dan ITB.
Semoga niat baik dan ketulusan kita semua dipandamg sebagai amal ibadah disisi Allah SWT. Amien.
Posted at 01:51 pm by alnash
Permalink
Thursday, June 15, 2006
Perjalanan ke tanah Gempa...bag.1
Jakarta 15 Juni 2006
Sore ini sudah menjadi sore keenam untuk tidak lagi menikmati gugurnya matahari terik di camp pengungsian. Setelah sepekan berada diantara mereka dan membaur bersama banyak hal yang sudah direkam. Berikut potongan ceritanya.
Tanggal 27 May 2006
Waktu itu hari Sabtu, dan akan tetap diingat oleh sebagian orang. Dibelahan selatan pulau ini tanah bergoyang namun geraknya tidak sampai ke Jakarta. Seperti biasanya, ketika hari libur tiba, saya pun berhenti dari rutinitas pagi, saat itu saya meneruskan tidur sampai siang, hingga masuk telephone yang mengabarkan bahwa terjadi gempa di Jawa tengah dan Jogja. Saya Fikir gempa biasa,meneruskan tidur dan kembali ada SMS yang menyarankan untuk menghidupkan TV. Dan ternyata……..
Tanggal 28 May 2006
Ternyata itu bukan gempa biasa, itu seperti yang terjadi diAceh kemarin dalam benak saya, namun dalam hati semoga tidak separah itu keadaanya.
Angka Korban meninggal susul menyusul diberitakan, dari 2 ribuan kemudian mendekati angka 3 ribu lalu empat dan terus bertambah.
Saya sibuk mecari nomer telephone beberapa teman yang tinggal disana, tapi….
Saya ternyata teledor, beberapa waktu yang lalu sempat ganti simcard dan nomer nya itu tersimpan didalam kartu lama.Hmm..hanya bisa berdoa, berharap mereka tak ada yang terkena dampaknya apalagi sampai…..naudzubillah!!
Tanggal 29 May 2006
Kesibukan dimulai lagi di hari Senin itu, saya berangkat kekantor sperti biasa dan berita gempa ternyata sudah menjadi issue nasional.
Ternyata manajemen kantor sudah dulu bertindak. Mereka sudah koordinasi pada hari minggu dan mebuat rencana tanggap darurat, dengan usaha segera mengirimkan bantuan medis,obat dan juga peralatan kesehatan serta Ambulance ke sana.
Hari itu dilalui dengan upaya persiapan pengiriman bantuan tersebut. Sampai malam kita masih menunggu barang, packing dan membereskannya.
Jam 10 malam barang yang akan kita bawa melalui ambulance sudah siap. Dua irang teman medis dan Sopir ambulance siap berangkat ke Jogja malam itu juga.
Tanggal 30 May 2006
Ada rencana untuk menggalang donor darah seribu kantong untuk Jogja sebelumnya, dan hari ini Alhamdulillah semua rencana itu terlaksana. Darah yang terkumpul mencapai 650 lebih kantong dan segera dikoordinasikan dengan PMI pusat untuk di bawa ke Jogja.
Persiapan untuk pengiriman bantuan obat yang lainnya terus berlangsung, di kantor sudah berdatangan supplier obat yang mengirimkan pesanan. Malam itu satu mobil Pickup sewaan berisi obat obat menyusul untuk berangkat ke Jogja.
Sementara itu team medis yang akan dikirmkan ke Jogja juga telah diberangkatkan dengan 3 dokter dan 2 orang paramedic buat bergabung dengan team yang telah berangkat dengan Ambulance.
Tanggal 31 May 2006
Team Medis sudah memberikan khabar, bahwa mereka telah mendirikan posko kesehatan dan juga berfungsi sebagai camp di darah Bantul, tepatnya desa Sumbermulyo pedukuhan Bondalem didaerah kecamatan Bambanglipuro.Masih banyak hal yang mereka keluhkan.
Segala fasilitas dan bantuan logistic sudah sampai dan saya kembali mempersiapkan bekal obat yang terlewatkan untuk di bawa…
Menanti saat bergabung disana tanggal 2 Juni ……

Desa Sumbermulyo, Posko/camp didirikan didepan reruntuhan SD Bondalem ini
Posted at 06:12 pm by alnash
Permalink
Wednesday, May 31, 2006
Another disaster in another place
Another pain with "same" tears...
What a clue....What`s going on in our land??
What going on with Us...??
I`ll going to Jogja on 2/6/06...
We will "celebrate" the tears together!!
Posted at 04:35 pm by alnash
Permalink
Friday, May 19, 2006
Hanya sedang ingin sharing poto poto lama yang enak dilihat atau setidaknya yang menurut versi pengambil gambarnya enak dilihat, walau belum tentu keadaannya demikian.
Atau ini bentuk kerinduan akan rutinitas masa lalu yang tak lagi dilakoni...?entahlah.
Perjalanan keliling daerah yang tinggal memori.
Hmmhh…atau biarkan saja saya bernostalgia dengan tempat yang pernah saya datangi, dan mengingat lagi manusia manusia lalu yang mungkin tak akan lagi ditemui.
Papua
  
Road To Tembagapura "Welcome dance" Inside smallville
 Another friends of mine
Ceram Island-Maluku

Rig osseil field-day view

Desa salas-maluku terpencil dan terbelakang

Rig osseil-Night View

Kabut dibukit osseil

Muarateweh kalteng
team expedisi barito

Lapangan landai somewhere outthere

Muara badak Kaltim

"Gadis ikan teri"

Clear view at kalimantan sky
"Help me duonks...."
Jogja
Stasiun Jogja

Pembatik at Mirota Store

Mbok endut penjual makan malam

Central Java
Stasiun Tawang

Kubah masjid-red color

Gereja tua blendukan

Sidempuan Sumut
Gold drilling preparation

With drilling pad team

Purnama hill sky-Night View

Meulaboh Atjeh
Lonely Mushalla

Hoping Smille

Panic night-Gosip Tsunami ronde 2

Subuh di banda aceh


Jembatan harapan sisa belanda
Posted at 12:22 pm by alnash
Permalink
Wednesday, May 10, 2006
Sebuah Cerita :
Pada suatu sore seorang ayah bersama anaknya yang baru saja menamatkan pendidikan tinggi duduk berbincang-bincang di halaman sambil memperhatikan suasana di sekitar mereka. Tiba-tiba seekor burung gagak hinggap di ranting pohon. Si ayah lalu menunjuk ke arah gagak sambil bertanya,
"Nak, apakah benda tersebut?" "Burung gagak", jawab si anak.
Si ayah mengangguk-angguk, namun beberapa saat kemudian mengulangi lagi pertanyaan yang sama. Si anak menyangka ayahnya kurang mendengar jawabannya tadi lalu menjawab dengan sedikit keras,
"Itu burung gagak, Ayah!"
Tetapi sejenak kemudian si ayah bertanya lagi pertanyaan yang sama. Si anak merasa agak marah dengan pertanyaan yang sama dan diulang-ulang, lalu menjawab dengan lebih keras, "BURUNG GAGAK!!"
Si ayah terdiam seketika. Namun tidak lama kemudian sekali lagi mengajukan pertanyaan yang sama sehingga membuatkan si anak kehilangan kesabaran dan menjawab dengan nada yang ogah-ogahan menjawab pertanyaan si ayah,
"Gagak ayah.......".
Tetapi kembali mengejutkan si anak, beberapa saat kemudian si ayah sekali lagi membuka mulut hanya untuk bertanyakan pertanyaan yang sama. Dan kali ini si anak benar-benar kehilangan kesabaran dan menjadi marah.
"Ayah!!! Saya tidak mengerti Ayah mengerti atau tidak. Tapi sudah lima kali Ayah menanyakan pertanyaan tersebut dan saya pun sudah memberikan jawabannya. Apakah yang Ayah ingin saya katakan ???? Itu burung gagak, burung gagak Ayah.....," kata si anak dengan nada yang begitu marah.
Si ayah kemudian bangkit menuju ke dalam rumah meninggalkan si anak yang terheran-heran. Sebentar kemudian si ayah keluar lagi dengan membawa sesuatu di tangannya. Dia mengulurkan benda itu kepada anaknya yang masih marah dan bertanya-tanya. Ternyata benda tersebut sebuah buku harian lama.
"Coba kau baca apa yang pernah ayah tulis di dalam diary itu", pinta si ayah. Si anak taat dan membaca bagian yang berikut..........
"Hari ini aku di halaman bersama anakku yang genap berumur lima tahun. Tiba-tiba seekor gagak hinggap di pohon. Anakku terus menunjuk ke arah gagak dan bertanya, "Ayah, apakah itu?". Dan aku menjawab, "Burung gagak". Walau bagaimana pun, anak ku terus bertanya pertanyaan yang sama dan setiap kali aku menjawab dengan jawaban yang sama. Sampai 25 kali anakku bertanya demikian, dan demi rasa cinta dan sayang aku terus menjawab untuk memenuhi perasaan ingin tahunya. Aku berharap bahwa hal tersebut menjadi suatu pendidikan yang berharga."
Setelah selesai membaca bagian tersebut si anak mengangkat muka memandang wajah si ayah yang kelihatan sayu. Si ayah dengan perlahan bersuara, "Hari ini ayah baru menanyakan kepadamu pertanyaan yang sama sebanyak lima kali, dan kau telah kehilangan kesabaran dan marah."
Sang anak hanya dapat tertunduk dan diam……..
Posted at 11:45 am by alnash
Permalink
Tuesday, May 02, 2006
Menulis itu proses yang aneh ya..??
kalau dipaksakan dia tidak akan bisa jalan dan kalaupun bisa akan menghasilkan sesuatu yang tidak jelas tjuannya atau sesuatu yang diluar dari keinginan. Menulis merupakan pross kreatif yang berbeda dengan proses kreatif yang lain seperti melukis misalnya sama sama membutuhkan suasana tenang tapi lebih lagi membutuhkan fokus dan daya fikir.
Sperti sore ini...pinginnya nulis tentang semua yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir ini, *ingat beberapa bulan bukan hari *seperti dulu yang bisa mereview kegaiatan dari hari ke hari, tapi tidak dengan saat ini.
Ketika keinginan untuk menulis itu ada ternyata waktunya tidak tersedia, ketika waktu tersedia ternyata tenaga sudah tak ada.
kangen untuk menulis,menumpahkan semua yang ada di hati dan dalam pikiran untuk pelepasan, namun kembali kepada realita itu...
Sekarang baru bisa menyadari bahwa cukup menyita waktu dan tenaga juga untk bekerja sebagaoi orang kantoran. Memang sih tidak berada di pojok dunia tidak bergulat dengan hutan dan malam serta kebosanan, namun itu harga yang harus di bayar untk sebuah pengorbanan.
Tak ada lagi waktu untuk diri sendiri, tak cukup lagi waktu untuk keluarga serta imbaasnya adalah berkurang atau susah ditemukan waktu untuk sendiri dan menulis sesuka hati.
Semoga ini berupa tahap adapatasi awal, kemudian akan bisa mengatasi dan mencari celah dalam saat sibuk itu untuk tetap dapat menulis dan berfikir.
Posted at 06:10 pm by alnash
Permalink
Tuesday, April 25, 2006
Membaca beberapa tulisan tentang pelayan di tempat publik seperti rumah sakit dan Toko buku saya kembali teringat peristiwa ketika sedang menunggui ibu di Rumah sakit kemarin.
Ada beberapa hal yang membuat saya seperti tersentakkan dengan budaya kerja dan budaya sopan santun berinteraksi dengan SESAMA manusia.
Mengapa saya memberikan tekanan pada kata sesama manusia, karena ketika di Rumah sakit itu saya yang “hanya” penunggu pasien menjadi seorang yang berkedudukan lebih rendah dari pada petugas karena harus siap mendengar bentakkan atapun jawaban dengan nada sinis ketika saya menannyakan sesuatu.
Dan celakanya semua ketidaknyamanan itu saya dapat dari seorang co-ass dan siswa yang nota bene adalah penerus dari semua layanan kesehatan dimasa depan.
Sebagai seorang yang bekerja dibidang kesehatan dan bergerak di dalam sektor jasa juga, saya merasakan sekali efek dan pentingnya sebuah pelayanan.
Efek dari keramahan layanan bukan hanya untuk tetap menghidupkan periuk nasi saja namun memang dalam bidang jasa sebuah pelayanan adalah ujung tombak setelah itu baru service serta keunggulan produk kita yang dijual.
Namun ada satu hal yang membedakan antara iklim kerja saya dan mereka, saya bekerja di institusi Swasta dan ibu saya di rawat di Rumah Sakit Negeri.
Di sebuah Institusi negeri mungkin hal itu tak berlaku, mereka akan tetap di gaji sama seramah apapun layanan mereka, pasien dijamin tidak akan berkurang karena lebih banyak orang yang membutuhkan dan tidak perlu takut untuk kehilangan pelanggan.
Perubahan zaman ternyata belum mampu merubah paradigma dan cara pikir seseorang dalam melayani pasien.
Bahwa sebenarnya keadaan sakit bagi seorang pasien bukan hanya fisiknya tapi juga mental.
Bahwa didalam merawat pasien ada hal hal tertentu yang membuat seseorang menjadi lebih cepat sembuh atau malah sebaliknya.
Juga, kenyataan bahwa yang akhirnya ikut berfikir untuk kesembuhan si pasien bukan hanya pihak medis dari Rumah Sakit tapi juga keluarga dan mereka mempunyai beban tambahan selain itu, dana lebih yang keluar dan terutama menahan emosi dan tekanan rasa sedih melihat anggota keluarga yang dicintai terkulai lemah di tempat tidur rumah sakit.
Sebuah layanan tetap merupakan sebuah layanan, dan pasien tetap juga seorang pasien, manusia yang sedang sakit dan tidak peduli dia terbaring di ranjang rumah sakit swasta atau negeri.
Semoga kejadian ini bisa jadi pembelajaran buat kita semua.
Note: Alhamdulillah ibu sudah pulang dan sekarang dirawat oleh keluarga di rumah, Terimakasih buat semua dukungan dan do`anya.
Posted at 09:29 am by alnash
Permalink
|