Akhir January 2009
Semua berawal dari sebuah telephone yang saya terima beberapa hari
setelah acara Kick Andy itu ditayangkan, suara pria yang cemas
menceritakan tentang kondisi kemenakannya. Saya Masih ingat, ketika itu
saat menerima telephone dalam kondisi sangat tidak konsentrasi karena
sedang berada di atas motor, di bonceng oleh teman pulang menonton
pertunjukkan di Taman Ismail Marzuki.
Dari suara yang berhasil di dengar dan dapat mengerti karena bising
oleh jalanan Jakarta, di ceritakan bahwa ada anak yang berstatus
keponakan sedang terbaring sakit karena menderita Leukemia, penyakit
yang membawa saya kepada acara TV itu dan perkenalan ini. Lalu, karena
pertimbangan untuk penguatan mentalnya agar bertemu dengan orang yang
pernah mengalaami hal yang sama, maka sang paman yang kemudian saya
kenal bernama Tachir, meminta saya untuk menengok anak tersebut.
Saya menyanggupi, karena Insya Allah saya memang meniatkan agar
kehadiran saya dapat memberikan semangat dan meringankan beban, walau
saya tau bukan menyembuhkan. Faktor semangat dan daya juang untuk
bertahan hidup sangat berkorelasi dengan proses kesembuhan seorang
penderita kanker. Bertolak dari kesadaran tersebutlah saya
menyanggupinya. Di buatlah janji unuk bertemu dan berangkat sabtu esok
harinya.
Awal February 2009
Siang itu, ketika Jakarta sedang panas panasnya, saya berjalan di
trotoar tepat di depan kedubes Australia, lagi telephone saya berbunyi,
kali ini permohonan maaf dan maklum, karena janji untuk pergi ke
Rawamangun *tempat ponakan Mas Tachir tinggal* untuk minggu ini di
tunda. Saya menanyakan alasannya, dan di katakan ini karena permintaan
Khalif *nama anak yang sakit tersebut sendiri*.
Hmm, sejenak saya bingung, namun akhirnya saya sadar bahwa saya lupa,
yang sakit itu adalah anak kecil, masih usia Sekolah Dasar, mempunyai
cara pandang dan pola piker yang berbeda dengan kita manusia dewasa.
Dari apa yang di tuturkan oleh mas tachir saya menangkap alasan
keberatan atas kedatangan saya karena Khalif belum bisa menghadapi
orang asing, apalagi yang dterima olehnya adalah orang asing yang
menengok karena pernah bernasib yang sama.
Saya Sangat dapat memahaminya.
Antara April dan Mei 2009
Selang beberapa bulan setelah komunikasi yang terakhir, saya
mendapatkan telephone lagi, kali ini berita gembira. Khalif sudah
mengalami perbaikan, kondisi badannya cenderung stabil, walau belum
pernah melihat sosoknya, namun saya langsung membayangkan teman
kemotherapi saya yang dulu juga berusia Sekolah Dasar, yang kemudian
bisa ceria dengan kepala gundulnya, Ahh..semoga Khalif membaik seperti
teman Saya itu dulu.
Saya tersenyum, berita ini saya anggap pertanda baik, karena motivasi
dan semangat adalah obat terampuh untuk melawan kanker selain
kemotherapi.
Semoga ya Allah…
Setelah berita yang menyenangkan itu, nyaris tak ada sama sekali
informasi tentang Khalif, mas Tachir yang dulu sering mengabarkan
kepada saya kondisinya kini tak lagi ada khabarnya. Saya sendiri pun,
sibuk dalam irama kerja serta semua hal dalam hidup yang menjadi
tanggung jawab membuat saya juga tidak sering mengecek kondisinya.
Pernah satu kali seingat saya, berusaha untuk menelphone, namun nomer
CDMA satu satunya yang di pakai oleh pamannya Khalif untuk menelephone
saya dari pertama tersebut tidak aktif, setelah itu tak ada lagi berita
dan usaha saya.
Sampai malam ini…
25 September 2009 pukul 22.34
Libur lebaran saya berada dirumah ibu di Serang, setelah kembali ke
kamar saya yang selesai d semproti obat anti nyamuk dari sejam yang
lalu, seusai menunaikan shalat isya dan sempat *ada hubungannya atau
tidak* menonton Kick Andy Episode Korban Lapindo, saya mencek HP yg
tertinggal d kantong celana di dalam kamar , lalu mendapatkan SMS dari
mas Tachir berbunyi demikian:
“Mas keponakan saya sudah gak ada, Terimakasih atas saran saranya dan mohon doanya untuk Khalif Khaelani.Thx.Tahir.”
Saya kaget, terdiam sejenak, dan hanya bisa menuliskan
Innalillahi….pada kolom kosong reply sms, tanpa tau apa yang harus saya
tuliskan lagi. Cukup lama kursor di layer HP ber kedip kedip tanda
meminta jawaban dan apa yang saya fikirkan…akhirnya saya
menyampaikan maaf yang sebesar besarnya karena tidak bisa maksimal membantu.
Teriring doa saya untuk Khalif, anak yang tak pernah saya lihat
wajahnya, rekan saya yang akhirnya di panggil sang Khalik dan sudah
menunaikan tugasnya di dunia,
“semoga Khalif menjadi syuhada yang sebenar benarmya, berdiri dan
berdiam di mimbar Illahi bersama para syuhada pendahulu, menjadi warga
penghias syurga dan menunggu saatnya berkumpul bersama orang tua dan
keluarga nya nanti.”<i/i>
Amienn..
PS: Mohon doa nya untuk rekan kerja saya Saudara Tia Andra Wibawa
yang sudahlebih dari satu minggu ini dirawat d ruang steril RS Kanker
Dharmais karena leukemia.
Andra Ini adalah teman saya yang kita sempat bersama sama ke Bali
kemarin, bertemu saat Andra liburan bulan madu merayakan pernikahannya.
Semoga kesembuhan kembali menjadi milik Andra.
Amienn
Posted at 01:58 am by alnash