Dalam jiwa manusia ada sebuah tempat untuk mengedepankan
rasa, dan me-nomordua-kan logika, tempat yang memberikan waktu bagi diri
manusia tersebut melakukan kontemplasi , merenungkan tentang hakikat dirinya,
menikmati hal yang indah bersifat seni dan disukainya, merasakan pedih yang ingin
di kenang, merasakan memory yang sudah lama lepas dari bayangan.
Setelah lama hidup di kota
besar dan selalu mengedapankan logika untuk bertahan hidup, keinginan
mendengarkan suara hati dari sudut yag lain itu kadang mengemuka,terkadang bukan karena tidak mempunyai waktu
namun karena waktu yang tersedia tidak selalu tepat untuk mendengarkan suara
hati tersebut.
Waktu yang bagi saya sebut sebagai “Menari sendiri”.
*Penamaan untuk
suasana seperti itu terinspirasi dari lagunya Sting “They Dance Alone”*
Waktu special milik diri kita pribadi tanpa campur tangan
pihak manapun dan kita bebas memikirkan apa yang ingin di fikirkan, berandai
andai, mengingat ingat lalu merenungkan semua yang ada lalu bagi saya
menuliskannya dengan lancar , tulisan itu mengalir deras seperti air sungai
mengalir mengikuti arusnya.
Saat seperti itu juga akan membuat kita merasa lebih dekat
dengan Tuhan, bentuk lain dari sebuah tahajjud, jika dalam tahajud ada gerak
rakaat yang harus di implementasikan namun yang ini bagai sebuah doa setelah
tahajjud, moment ini adalah saat Tuhan dan penciptanya begitu dekat, bisa
berkomunikasi dengan segala cara, dapat berkeluh kesah dan mengadukan semua
yang ingin di kadukan unuk kemudian mendapatkan pencerahan serta semangat baru
kembali
Tanpa disadari jaman menjauhkan manusia dari dirinya sendiri,
semua tuntutan dan keadaan yang di kondisikan agar dapat di penuhi sesegera dan
secepat mungkin membuat manusia pontang panting untuk memenuhinya, lari
secepatnya sehingga dapat membuat dirinya lari dari nilai kemanusiaan yang
seharusnya tidak ikut di tinggalkannya.
Kemanusiaan itu kembali mengemuka justru ketika disaat
manusia tersebut terjatuh atau gagal, dia akan kembali kepada diri dan kepada
penciptanya, berkeluh kesah dan menyalahkan apapun yang mungkin jadi penyebab
situasi yang tidak menguntungkan tersebut, sebaliknya apabila sukses, dirinya
akan semakin ditinggalkan, dan juga sang Pencipta yang menjadi penentu
terlupakan, seakan tangan Tuhan tak bermain dalam percaturan hidupnya.
Demikianlah hidup, nilai nilai kemanuisaan kadang sedikit
terpaksa harus kita hidupkan kembali, untuk sekedar mengingatkan bahwa diri
kita adalah manusia. Manusia yang tidak hanya membutuhkan kepuasaan dunia
sebagai sumber pemuas dahaga satu satunya namun juga dahaga bathin yang harus mendapatkan porsinya, sebelum hakikat
kita sebagai makhluk ikut terserabut.
Saatnya menari
sendiri ...
Posted at 04:13 pm by alnash
gXp April 18, 2009 07:30 PM PDT Bernyanyilah dan terus menari.. :)