Ada pemandangan aneh yang selalu saya pertanyakan dulu, ketika saya menghadiri upacara pernikahan. pemandangan yang saya maksud adalah ketika orang tua yang menangis ketika anaknya meminta restu ketika akan menikah. Waktu itu saya bertanya..."bukankah seharusnya orang itu berbahagia", walau kemudian saya sadar bahwa ada saat ketika seorang manusia betul betul berbahagia ia malah mencucurkan air mata.
Ternyata sekarang saya baru tau rasanya....bahwa melepaskan seseorang yang sangat kita sayangi untuk menjalankan hidup lebih jauh, menempuh perjalanannya sendiri tanpa mendapatkan pengawalan lagi dari diri kita juga membutuhkan kebesaran hati. melihat seorang manusia tumbuh dan kemudian menjadi indiviu mandiri adalah sebuah kisah sukses yang hanya bisa dirasakan oleh orang yang menjadi pengawalnya itu, Sang orang tua yang memberikan restu ketika anaknya memilih calon pendamping dan akhirnya melangkah pergi pasti merasakan perasaan kehilangan yang menyesesakkan itu.
Airmata yang dia curahkan pasti bukanlah air mata penyesalan, tapi airmata syukur....air mata haru...air mata doa yang tercurah karena dia menyayangi makhluk yang siap berangkat pergi tersebut.
Rasa ikhlas lah menurut saya yang akan menjadi kuncinya....dengan legowo dia melepaskan kepergiannya, karena dia pergi untuk sebuah kebaikan, tujuan kepergiannya untuk keadaaan yang lebih baik untuk dirinya...ya untuk diri nya dulu, karena untuk diri kita memang belum tentu.
Tapi bukan kah essensi terakhir dari rasa cinta adalah ketika kita dapat ikhlas melepas orang yang kita sayangi untuk menjadi lebih baik lagi.
Seperti kata Pujangga besar kahlil Gibran, bahwa seoang anak manusia hampir serupa dengan anak panah, orang tua hanyalah busur dan suatu saat harus siap melepaskannya, dengan mengarahkannya kepada kebaikan, tapi sekali busur itu terlepas dia akan menjadi dirinya sendiri dan bebas melesat ke arah yang dia sendiri tuju.
Sang pengawal hanya menjadi busur,setelah anak panah melesat, busur akan tergeletak danhanya dapat menyaksikan lesatan sang panah menuju puncak.
Iya..iyaa..
Akhirnya... kini saya baru dapat mengerti makna tangisan ibu di pernikahan tersebut.