Ya, semua orang kalau ditanya pasti akan menjawab “saya suka coklat”. Termasuk saya, saya sering merayakan sebuah moment dalam hidup dengan sebatang coklat. Sebagai rasa syukur atas sebuah karunia dan rejeki biasanya saya akan membeli coklat, pun ketika saya sedang tidak dalam keadaan yang baik, seperti sedang medapatkan masalah atau sedang kesal terhadap seseorang atau sesuatu, sebatang coklat cukup bisa jadi obatnya.
Coklat bagi saya adalah sebuah terapi, tempat untuk merayakan sedih dan senang dengan diri saya sendiri.
Hal ini saya ceritakan, agar mereka diluar sana yang membaca tulisan ini, dapat mengambil essensinya bahwa orang lain tidak selalu ada disamping kita dalam suka ataupun duka, karena bergantung kepada orang lain sebagai sumber pembangkit semangat atau kawan pembagi kesedihan tidak bisa selalu diandalkan. Saya tidak menganjurkan menjadikan benda mati sebagai teman setia, namun membuat suasan yang biru tidak menjadi tambah kelabu atau suasan riang bisa dirayakan dengan lebih tenang.
Coklat Jawabannya.
Secangkir coklat sering saya baw disore hari ketika melihat mentari senja siap masukan ke balik bumi, disana di ujung timur Indonesia, saat dulu ketika bermil mil saya dijauhkan dengan orang orang yang saya kenal dan cintai di pulau jawa.
Sebatang coklat saya akan bawa kepedalaman Kalimantan sebagai bekal kalori jaga jaga kalau support makanan untuk team ekspedisi datang terlambat ditengah pedalaman Kalimantan tengah, 3 hari dari camp terdekat dan tidur di fying camp yang kita dirikann bersama. Coklat yang karena persediaanya terbatas hanya saya makan sendiri dan dalam keadaan diam diam, sekotak untuk sehari dan sebatang coklat sebagai tanda bahwa sudah seminggu pula saya melewatkan hari ditengah hutan perawan Kalimantan itu.
Saat ini, coklat yang dapat saya temukan disetiap mall yang mengepung Jakarta, tidak lagi menjadi benda keramat yang harus saya makan dengan perlahan seperti yang saya lakukan didalam hutan. Keberadaannya kadang sudah terlupakan digantikan dengan hal lain yang terkadang lebih menyita perhatian ketika euphoria hidup ada disekitar.
Sore ini kembali mata saya melihat teman sendiri saya tersebut. Ya sebatang coklat sore ini saya beli sehabis gajian. Gaji yang sudah jelas takaran dan peruntukkkannya, sore tadi disiishkan sedikit untuk beberapa batang coklat, dari tingkatan Silver Queen sampai beberapa kakak kelasnya yang agak lebih mahal, namun mata saya tertegun dengan bentuk coklat yang didalam bungkus dengan sangat bagus, namun niat saya tercekat, ludah saya telan karena melihat harga nya. Hampir seratus ribu rupiah untuk kurang dari 10 isi coklat didalam kotak tersebut yang masing masing ukurannya mungkin hanya sebesar ibu jari tangan saya. Dalam hati berkata “Ah sudahlah, itu makanan untuk nanti ketika saya sudah menjadi teramat kaya.
Harapannya, semoga ketika saat itu tiba, keinginan saya tetap sederhana.