
Hari minggu itu, ketika sedang berada dkampus, teman disebelah saya mendapatkan SMS, ada khabar bahwa Pak Harto sudah meninggal. Mendapat khabar seperti itu, kami menghentikan topic kuliah Human relation yang sedang berlangsung, diskusi menjadi pencarian kebenaran tentang berita tersebut dan lontaran pendapat tentang keadaan itu.
Beliau bagi saya
Saya mengingat sosok sang jenderal besar dengan perasaaan datar, saya bukan seorang pengagum beliau, namun juga bukan orang yang membencinya. Sosok beliau yang diluar jangkauan saya namun mengisi hampir seluruh waktu dalam perjalanan hidup. Photo beliau tergantung setia disetiap kelas yang saya masuki, mulai dari SD hingga SMU, hanya orang yang menjadi pendamping disebelahnya dalam poto yg terletak didepan kelas itu saja yang berganti. Seakan ada kesan bagi saya bahwa wakil presiden negeri ini boleh berganti, namun tidak bagi presiden nya.
Beliau dalam memori
Sosok beliau menjadi akrab dengan saya walau dalam dimensi yang berbeda, melalui media Televisi yang jaman itu dominasi TVRI sebagai satu satunya TV di negeri ini, mendekatkan dengan cara yang tidak biasa, acara musik atau film kegemaran saya harus berganti dengan pidato beliau, acara yang saya tunggu harus rela mengantri (mengalah) demi siaran langsung Lomba kelompencapir, Bina Tani dan Nelayan, dan acara kenegaraan sejenis, yang sekarang baru saya sadari begitu di aturnya pertanyaan pertanyaan yang diajukan sehingga saya hapal "kode etik " bertanya ala waktu itu yang biasanya selalui di mulai dengan pengucapan terimakasih oleh sang penanya, pujian atas dukungan, dan akhirnya pendapat atau "restu" yang diminta. Otak kecil saya merekam semua itu dan beranggapan "memang negeri ini gemah ripah loh jenawi".
Waktu berjalan dan saya juga tumbuh dengan kehadiran beliau Nun jauh di istana Negara dan saya rakyat jelata yang tidak mempunyai akses atau prestasi apa apa yang mungkin bisa mendekatkan saya agar dapat melihat wujud nyata Sang Jenderal, namun hingga akhir hayatnya, hanya tabung bergambar itu saja yang menjadi medio perantara bagi saya dan sosok beliau.
Beliau dan rezimnya
Saya dan mungkin berjuta juta manusia lain di Indonesia bernasib sama, mengenal beliau dari pembicaraan dan kesan orang lain tanpa pernah mempunyai pengalaman pribadi yang bisa digunakan sebagai pembentuk opini sendiri. Opini yang terbangun sebelum reformasi bertabrakan dengan apa yang dinampak dan didengar akhirnya terbentuk ketika reformasi bergulir. Sehingga hari ini, Sampai pada akhir hayatnya , Seiring dengan tidak tuntas nya kasus hukum beliau, menggantungnya semua yang dulu sempat di tuduhkan bahkan akhirnya berhentinya semua kasusnya di pengadilan.
Akhirnya masing masing orang dinegeri ini menyimpulkan sendiri opini dan sikapnya terhadap sosok sang jenderal.
Beliau bagi saya dan mereka
Saya bukan dari keluarga yang tersejaherakan selama orde baru berkuasa, kehidupan kita nyaris biasa biasa saja, kalau tidak bisa di sebutkan dibawah standard kehidupan orang sejahtera pada umumnya, buktinya? Setua ini saya baru bisa menyelasaikan gelar kesarjanaan saya karena ketidak mampuan financial orangtua saya dimasa itu.
Namun, kami juga tidak merasakan dampak represi atau perbuatan yang tidak wajar dari rezim tersebut. Tak ada anggota keluarga saya yang hilang, atau kerabat yang di tahan tanpa alasan, tidak juga cap sebagai anggota eks PKI menempel dalam keturunan kami, kita semua bebas dari hal hal yang menghantui di zaman itu.
Akhirnya..
Hari ini bapak pembangunan itu akan dikebumikan, tepat jam 11 siang nanti katanya. Saya sebagai seorang anak bangsa hanya dapat mendoakan, selayaknya ada berita kematian dari sesama muslim, selayak itu pula kita mendoakan.
Ina lillahi Wa Inna illaihi Rojiun, semua berasal dari Allah SWT dan akan kembali kepada-Nya.
Semoga amal ibadah beliau di terima di-Sisinya, dan yang paling utama, semoga ada keikhlasan dari mereka yang tidak bernasib sebaik saya, yang mempunyai masalah dengan kebijakan beliau, yang ada luka dikarenakan tindakan beliau, membuka pintu maaf dan memberikan maaf setulus tulusnya agar jalannya di lapangkan.
Bukankah memaafkan adalah jalan penyembuhan terbaik untuk sebuah luka?
Wallahualam..