Dua hari ini, secara berturut turut saya melihat kecelakaan lalu lintas, didepan mata. Kejadian pertama ketika berlokasi di Jalan Gatot Subroto arah ke Semanggi dari perapatan Slipi, antara Gedung MPR/DPR dan taman Ria Remaja, hari senin yang padat dijalan raya semakin padat. Didaerah itu yang biasanya tidak pernah macet walaupun di jam jam sibuk, tiba tiba arus menjadi terpampat, lalu beberapa meter ddepan, saya mendapatkan sumber jawabannya, ternyata ada kecelakaan sepeda motor, pertama saya melihat anak laki laki usia SMP duduk sambil menangis dan shock di atas trotoar, dengan banyak pengendara sepeda motor yg masih menggunakan helm, berusaha menenangkannya. Tangannya berdarah tapi sekilas nampak tidak parah. Lalu mata saya berpendar ke tengah jalan, dan Astaghfirullah….sesosok tubuh tergeletak ditutupi Koran, dengan darah tergenang, dan mungkin berjenis kelamin pria terlihat dari sandal yang terlepas dari pemakainya, Satu orang Polwan terlihat sibuk mengatur lalulintas dan orang memperlambat dan ada yg menghentikan perjalanannya.
Saya bergidik, lutut saya lemas, karena saat itu saya pun mengendarai sepeda motor.
Kejadian kedua pagi tadi, dari atas busway jurusan kalideres – harmoni, karena hari itu saya menggunakan tranposrtasi kebanggan Jakarta itu dan memarkir sepeda motor di kantor dari hari sebelumnya. Dari atas bus itu saya melihat ada orang yang dipapah, ada orang yang secara sukarela akhirnya mengatur jalan kendaraan, ada banyak pengendara sepeda motor yang menyemut karena jalur busway yang mereka ikut tumpangi terhalang oleh busway yang berhenti, mata melihat darah tergenang, dan pasti kecelakaan lagi, kali ini sepertinya busway yang bersenggolan dengan sepeda motor, oleng dan pengendara sepeda motor akhirnya terjatus, kesimpulan saya berkata demikian.
Duh, Gusti….saya membathin, Jangan sampai saya yang mengalami hal naas itu, saya sadar tidak terlalu ahli dalam berkendara, cenderung maunya duduk atau berdiri tidak apa apa juga, daripada harus capek sambil memgang stang motor dan berusaha berkonsentrasi penuh serta menghisap debu serta asap jalanan Jakarta.
Saya kembali ke model transportasi umum, walau harus mengorbankan waktudengan berangkat lebih pagi untuk menghindari antrian dan pulang lebih malam juga untuk menghindari antrian yg panjang.
Bukan karena sok sokan ingin menyelamatkan bumi dengan ikut berlahi ke kendaraan umum berarti membantu menurunkan kadar emisi di kota ini, walau tidak bermaksud ternyata say telah berpartisipasi secara langsung, menyelamatkan bumi dan menyelamatkan nyawa saya juga.
Jalanan memang tidak akan pernah aman untuk pengendara amatir seperti saya.
Kembali saya membathin…..kapan ya saya punya sopir pribadi?J
Posted at 09:23 am by alnash
 | Posted by ardhi nugraha @ 12/14/2007 02:09 PM PST |  |
masih amatir?
mau bljr lagi sama aku?
d tempatku juga bnyk accident, kata orang2 ada penunggu jalan yg setiap bulan meminta tumbal...
makanya sblm pergi k mana aja, kita harus berdoa... |
 |