
Setiap bulan suci ini datang disetiap hati muslim tentu ingin melakukan yang terbaik dalam mengisinya, karena tentu saja ini adalah kesempatan langka yang datang setahun sekali dan tidak semua amalan akan di ganjar seperti ketika dilakukan di Bulan ini.
Begitu juga saya, dalam hati berkeinginan agar dapat memaksimalkan ibadah di bulan ini namun dalam kenyataannya, sudah mendekati paruh kedua Ramadhan namun kwalitas ibadah tidak mengalami tanda tanda peningkatan.
Ketika Tarawih pertama, sama seperti ummat yang lain saya terkena euphoria menyambut Ramadhan, dengan tergesa gesa saya memacu kendaraan meninggalkan kantor di jam 4 sore, demi mendapatkan berkah Kepala tarawih pertama.Di masjid malam harinya umat berjubel, saya sampai harus shalat di pelataran halaman masjid dengan alas sejadah di bawahnya rumput.
Sahur Pertama juga demikian, saya bangun jam 3 malam untuk menyiapkan santap sahur dan shalat subuh sesudahnya. Keadaan itu tidak berjalan lama, hari kedua saya tarawih di rumah, hari ketiga saya malah tidak tarawih juga dengan hari hari berikutnya. Bahkan, malam kedua dan beberapa malam setelah Sahur pertama itu saya tidak lagi berpuasa dengan menjalankan sunnah makan sahur.
Kembali kepada Suasana tarawih, setelah beberapa hari saya sempat ke masjid lagi dan ternyata tak ada lagi ummat yang bertarawih di lapangan masjid, mereka semua sudah tertampung didalam sebuah pertanda masjid tak lagi di jubeli orang.
Makin ke sini keadaan tidak membaik, saya kadang buka puasa di mall, bahkan pernah sekali ngabuburit sambil nonton dan harus menanyakan jam buka lewat SMS kepada sahabat saya Miss Bekasi.
Hmm…metode ngabuburit yang salah….
Iyah..yah…..anggap saja tulisan ini seperti pengakuan dosa saya dalam menjalankan Ramadhan tahun ini, saya menceritakannya dengan malu hati sebenarnya tapi tak apalah kadang contoh yang buruk harus di ungkapkan agar menjadi pembelajaran bagi saya dan orang lain agar tidak menirunya. Dan semoga ada yang ter-inspirasi untuk tidak menjadikan contoh buruk ini sebagai panduan dalam berpuasa. Yang tadinya terlena dengan kegiatan hura hura tanpa ibadah di bulan puasa jadi tersadar lagi ingatannya..
“Hey..sekarang ini bulan puasa lho…” mungkin seperti itulah bunyi statement warning-nya.
Flash back ke masa lalu, mengingat Ramadha paling indah dalam hidup saya, adalah ketika saya habiskan dengan komunitas pengajian di kampung. Dengan mereka Ramadhan betul betul menjadi bulan penuh dengan tabungan amalan buat saya, sebulan waktu yang penuh dengan kegiatan yang tak hanya seremonial buka bersama tapi lebih dari itu. Semua kebaikan ada dalam hari hari kita.
Adakah masa itu dapat berulang kembali..Wallahualam
Kapan Ramadhan paling berkesan buat teman semua..???