Saya menemukan poto lama yang tidak sengaja diketemukan di file Photobucket, sewaktu saya jalan jalan dengan rombongan guru ke Jogjakarta, poto dengan salah seorang guru SD saya, bernama pak Tarson yang menurut informasi ibu di Serang *yang juga guru* beliau tahun ini akan memasuki masa pensiun.
Betapa cepatnya waktu berlalu, bapak yang dulu datang dari Tasik ke daerah Banten di SD saya dulu sekolah serta dulu mengajari saya, sekarang sudah pensiun.
Dulu pak Tarson mengajar dikelas 5, kelas dimana saya menjadi muridnya. Dia datang membawa perubahan yang agak ekstreem untuk anak kampung seumuran saya waktu itu, saya ingat sekali pak Tarson yang sering kita plesetkan nama nya jadi pak Tarsan tanpa basa basi lagi dihari pertama membariskan semua anggota kelas lima sebelum masuk, dia memeriksa semua kebersihan anak didiknya, hal yang jarang dilakukan oleh guru guru yang lain, biasanya kami hanya diperiksa kuku tangan dengan cara membentangkan tangan di hadapan guru dan hanya sedikit lecutan penggaris penanda bahwa kuku kuku kita sebetulnya sudah layak potong.
Metode pak Tarson ternyata bukan seperti itu, anak anak yang kedapatan gondrong, berkuku panjang dan hal hal lain yang menurut dia tidak layak dilarang dulu masuk kelas, setelah mereka berkumpul jadi satu mereka diberikan ceramah yang agak lama, saya tidak tau apa isinya, hanya bisa melihat dari dalam kelas karena kebetulan saya bukan termasuk golongan tidak bersih itu…(bangga).
Yang saya tau, semua nya menunduk bahkan ada beberapa anak perempuan yang siap siap akan menangis, setelah hal itu berlalu kita menanyakan keadaan interogasi tersebut, ternyata mereka cukup diberikan tugas yang membuat mereka kapot untuk berambut gondrong atau berkuku panjang, dengan cara membersihkan area sekolah, bukan hanya kelas 5.
Pak Tarson ini juga membawa seorang anak yang belakang saya ketahui adalah anaknya yang pertama dengan istri pertama pula, lelaki sekelas dengan saya , namanya Dede Baby Winata, untuk ukuran (again) kampung nama tersebut cukup fantastis, karena teman teman saya cukuplah bernama singkat dengan satu kata, seperti Jamsari, Amaliyah, atau Rahmani, pokoknya nama nama simple as usual seperti itu.
Dede akhirnya mengalami juga penyingkatan nama sehingga menjadi Dede BW, yang dibaca menjadi Dede Beweh, dan secara kebetulan ada kesamaan antara nama dan sifat, beweh didalah bahasa Sunda Banten artinya adalah cengeng, dan si Dede rupanya juga bersifat Cengeng
Imunisasi
Suatu hari ada petugas Imunisasi datang ke sekolah, saya dan teman teman yang lain sudah heboh, karena yakin itu adalah petugas Imunisasi yang kita sebut dengan Turihan, terbayang proses tangan disuntik atau di Turih dalam benak saya dan teman teman, beserta 3-4 orang teman yang lain saya kabur keluar kelas dengan berlari menuju ketempat pemandian di ujung desa dan bersembunyi di balik batu besar, persis seperti kepala kura kura akan masuk kebalik batu setelah melihat keluar apabila ada orang yang lewat lalu menakut nakut kami dengan kata kata " Hayo dia Dak…..jalema turihanna datang ka dieu…"
terj. "Hayo lo….orang yang Nurihnya dating kesini…"
Kepala kami lalu nyungslep lagi ke balik batu. Keadaan itu berlangsung bahkan sampai agak siang, sampai perut perih karena sebetulnya itu sudah masuk jam bubar sekolah dan perut waktunya untuk diisi, tapi karena ketakutan lebih baik bertahan agak lama karena takut di tunggu oleh petugas Turihan.
Tangisan
Kembali ke Dede Beweh, ternyata dia tidak lari, dia malah ada dikelas, dan ternyata itu memang hari Imunisasi disekolah, namun karena saya kabur dan balik lagi setelah acara selesai, yang saya dapat kan hanya anak anak perempuan yang bersimbah air mata dan seorang lagi adalah Dede dengan mata sembab serta sesunggukannya. Saya hanya bengong, tapi mensyukuri nasib tidak merasakan penderitaan itu, (terkutuk saya akhirnya jadi petugas Turihan setelah dewasa).
Dede menangis tidak keras, tapi matanya sembab dengan airmata tidak berhenti, saya bersyukur namun Dede menangis (tegaan ya..hehehe).
Kemana aja….
Keberuntngan lain dan kesialan lain namun juga membawa keanehan, karena suatu pagi pak Tarson, kembali membariskan anak anak untuk razia kebersihan, lalu terjaring lah anak yang dianggap jorok oleh beliau (again) saya tidak masuk dalamnya namun anehnya kenapa Dede juga di jaring oleh bapaknya sendiri dengan alasan rambutnya gondrong, pertanyaan yang baru sekarang saya sadari.….
Lah , kemarin kemana aja …waktu di rumah ngapain aja pakkkkkk? Kagak liat anaknya gondrong…?..hehehehe
Ini adalah poto ketika saya ketika berwisata gratis ke Jogja dengan rombongan Guru Guru jatah kursi dari ibu saya, dan…. surprise……… ada pak Tarson di dalamnya.
Apa khabar pakkk..??