
Semalam baru saja Reuni kecil kecilan dengan teman teman Ex-Community project di lembah Arwanop Tembagapura dulu. Dari reuni kecil kecilan dan perbincangan antara kita banyak banget yang bisa dipetik dan jadi bahan untuk rasa syukur (Seharusnya), walau kadang sebaliknya, dasar manusia kadang lupa bersyukur....
Mencoba Flash back ingatan dari perbincangan tadi malam.
Kata kata sakti yang saya anggap paling utama malam itu terucap dari mulut teman saya bernama Wiro, bapak satu anak asal Kalimantan barat yang mengaku turunan Dayak. Dia bekerja di PT. Energy Sengkang di Sulawesi Selatan, ada di Jakarta dalam rangka training Pengelolaan Lingkungan. Kita juga berkumpul dihotel tempat Wiro menginap. Pertanyaan datang dari Dadan, teman saya satu daerah dan juga dikirm ke Lembah Arwanop Papua dulu di tahun 2002.
Dadan menanyakan resep sukses Wiro kenapa sekarang bisa menembus posisi di HSE Department di kantornya, padahal basic nya sama dengan dirinya yaitu paramedic.Lalu Dadan mencompare dengan situasi yang terjadi di perusahaannya yang hanya menjatahkan satu kali training dalam setahun karena issue atau program HSE bukanlah big issue ditempat dia bekerja.
Saya tersentak dengan Ucapan Wiro, " Bro, kita jangan mengharapkan orang untuk berfikir bahwa diri kita penting, tapi bagaimana kita memposisikan dan membuat bahwa orang lain percaya bahwa diri kita adalah penting , itu kuncinya "
Jadi, dalam terminology nya Wiro, penting disini adalah sesuatu yang harus kita upayakan, bukan sesuatu yang akan datang dengan sendirinya apalagi berharap orang lain akan mengupayakannya untuk kita. Image atau ke-PENTING-an itu merupakan hasil dari sebuah proses, dengan lugas dan simple Wiro menerangkan,
"Bahwa untuk meyakini bahwa program HSE itu penting yang akhirnya mengakibatkan persepsi orang terkait bisa berubah pikiran adalah menerangkan kepada mereka, memberikan informasi sebanyak banyak nya, sharing info , brain storming, memberikan saran contoh dampak dan sebab akibat dan kalau perlu menakut nakut (dengan maksud baik) bahwa akan ada dampak yang terjadi kalau sebuah perusahaan tidak melaksanakan Health, Safety and Environment program secara baik."
Ditambahkan lagi,
"Dengan terbukanya wawasan orang orang, terutama pemegang keputusan , mereka akan berfikir untuk mulai merubahnya, dan perubahan itu bisa di awali dengan memberikan pengetahuan yang lebih baik lagi kepada orang orang yang terkait dengan HSE diperusahaan, dan orangnya adalah kita"
Saya jadi pendengar yang baik, karena selain saya Wiro, Dadan serta Asep, orang Tasik yang juga mantan pasukan Arwanop yang sekarang mengambil gelarnya di FKM – UI jurusan Keselaman dan kesehatan Kerja. Mereka adalah orang orang HSE dan berminat terhadap hal itu, sementara saya adalah pembelot, saya tidak berminat dengan ilmu kesehatan Kerja malah kuliah di Komunikasi walau bekerja diperusahaan konsultan kesehatan kerja tapi saya bukan Praktisi-nya. Saya Sudah menemukan dunia saya sebagai tenaga penjual disini, walau yang saya jual ada hubungannya dengan hal itu tapi lebih baik saya mengasah kemampuan saya dalam hal ini, karena selain kesehatan kerja, perusahaan juga menjual jasa lain yang saya lebih kuasai.
Hal lain adalah senangnya bertemu lagi dengan teman teman lama, dan senang juga akhirnya semua ternyata bisa survive (karena belum masuk dalam tahap sukses), dan menemukan bidangnya sendiri sendiri. Berminat dalam hal yang memang disukai serta mencari jalan untuk mewujudkan mimpi masing masing, tidak ada satupun di antara kita yang jatuh atau jadi beban orang lain, masing masing dapat berjalan dalam track hidup dan mencoba membuat track yang lebih baik.
Kesimpulansaya adalah bahwa penting adalah kata yang menyangkut positioning, bagaimana kita memposisikan diri dan pekerjaan kita, sebagaimana kuatnya usaha kita menancapkan Personal Image (kalau untuk barang adalah Brand Image) ditengah tengah kompetisi dan keadaan yang cenderung selfish seperti sekarang.
Memang tidak mudah, seperti yang Dadan teman saya lakukan, bahwa kenyataan hampir 3 tahun dia bekerja didaerah Penajam Kalimantan Timur tanpa perubahan berarti. Dengan adanya sharing dalan reuni tadi malam bisalah membukakan sedikit kesadaran, terutama bagi saya juga bahwa kata kata penting pada akhirnya bukan tujuan untuk dibanggakan tapi proses menuju keadaan itu yang harus diusahakan untukdiri kita menjadi lebih baik ke depan.
Tentang saya sendiri, untuk membuat Image yang baik sebagai tuan Rumah karena selain Asep yang berdomisili di Bogor kenyataannya sayalah satu satunya yang tinggal di Jakarta, dengan sisa sisa uang di ATM saya karena malam itu pas tanggung bulan sekali tgl 25 Juni, saya diminta mentraktir mereka, bukan karena kesan penting tapi lebih kepada upaya tidak mengecewakan mereka yang sudah berkumpul dan hal seperti itu akan sulit lagi terjadi karena pekerjaan dan domisili yang berjauhan maka saya meng-iya-kannya.
Saya berfikir dimana saya harus men-service mereka lalu kemudian teringat Rumah Makan Sunda didekat Kostannya Bagus, sering saya kunjungi tidak terlalu mahal namun tempat dan masakannya enak. Bersama sama dari Hotel tempat Wiro menginap di daerah menteng kita kesana.
Mereka terkesan dan saya senang bisa menjamu serta menjadi tuan rumah yg baik, mereka berterimakasih dan saya lebih berterimakasih lagi atas kelanggengan persahabatan yang mereka berikan.
Malam itu 4 orang yang pernah bertemu dipedalaman Tembagapura bertemu kembali…