Mumpung sedang tidak terlalu banyak kerjaan, ingin menulis tentang keadaan yang sedang dijalani. Bukan aktifitas tapi lebih pada kondisi real yang sedang dijalani.
Semua berjalan dalam track yang diinginkan, ada beberapa yang melenceng sedikit namun lumayan tidak terlalu jauh bahkkan ada beberapa keadaan yang malah diluar yang diharapkan suatu blessing.Alhamdulillah.
Dalam kata lain saya masuk dalam zona nyaman dalam hidup, dan tak ingin terlepas dari situasi ini (untuk sementara). Kenapa untuk sementara ?
Karena dari beberapa literatur yang saya baca dan apa yang pernah saya rasakan bahwa zona nyaman alias comfort zone ini tidaklah menetap, karena pada dasarnya manusia bukanlah makhluk statis, manusia adalah insan dinamis yang inginkan perubahan baik perlahan maupun extrim.
Sekarang mungkin sedang betah betahnya dengan situasi ini, banyak alasannya;
Saya inginkan posisi ini dengan penantian yang cukup lama, almost 5 years dan baru awal tahun inilah doa saya dijawab Tuhan, setelah melalui banyak hal pahit terjadi dipertengahan tahun kemarin.
Saya hanya berusaha menikmati. Tawaran keluar negeri tidak lagi saya follow-up. Tawaran untuk pindah ke company lain tapi kembali keliling sebagai Paramedic juga disikapi dengan hal yang sama. Saya hanya mencari peluang dengan bentuk dan wilayah kerja yang menetap, kalau bisa tetap di Jakarta.
Bayak hal yang bisa dinikmati dengan kestatisan hidup. Tempat tinggal baru yang nyaman (menurut ukuran saya), kendaraan yang mulai dicicil, isi kamar yang saya usahakan untuk dilengkapi, serta bisa me-mantain kehidupan dengan lebih baik.
Tapi, tanpa saya sadari ada banyak hal yang tidak lagi dilakukan, ada beberapa orang yang dulu dekat sekarang jadi menjauh, bukan karena tempat atau kesempatan tapi karena hidup saya berkutat dari satu tempat dan satu kegiatan dengan statisnya dan keadaan itu tidak saya sadari.
Zona nyaman itu kemudian menjadi boomerang, dan menjadi alasan terbesar dari longgarnya sebuah hubungan silaturahmi.
Kenapa saya sekarang seperti merasa cukup dengan apa yang ada dan tak ada lagi waktu dengan orang yang biasanya ada bersama menghabiskan waktu.
Kembali lagi saya diselamatkan oleh keadaan, atau lebih tepatnya orang disekitar saya yang terabaikan itu memberikan cukup pengertian. Dengan segala kesalahan itu dia masih bisa mengingatkan dan saya cepat juga tersadarkan bahwa saya lah yang harus mengatur ritme hidup dan bukan hidup yang mengatur pergerakan diri kita. Kita lah yang menjadi object sekaligus subject tanpa harus merasa merugikan dan dirugikan.
Dalam zona yang tercipta dengan tidak sengaja ini, ternyata ada hati yang dikecewakan, ada manusia yang menjadi terkesampingkan, ada individu yang terabaikan.
Tanpa bermaksud seperti itu, saya hanya ingin menyampaikan rasa penyesalan dan mohon bimbingan dengan tegur dan kritiknya.
Ternyata memang benar, kesempurnaan memang bukan milik manusia.
Comfort zone memang nikmat, tapi terlena didalam nya juga tidak baik.
For : My late “lovely” Mother
and My “babe” in Bekasi
Posted at 11:29 am by alnash
 |  |  |
U'r "babe" in Bekasi August 31, 2006 09:04 PM PDT
Babe... kt bunda Dorce kesempurnaan emang bukan milik manusia... Next time klo nonton gw diajak ya!!!!!!
Miss U babe
|
 |

 |  |  |
tj August 24, 2006 11:07 PM PDT
Gak usah dipikirin. Apalagi jadi beban. Jalanin aja apa adanya. Pada saatnya loe akan tau, kapan loe harus mulai bergerak lagi. Tapi jangan pernah berhenti bermimpi.
Nice to read a piece of your mind again. Never been gone. Still here with you and just keep my existence as a silent obeserver. |
 |

 |  |  |
apey August 24, 2006 09:42 PM PDT
Nurut gw, gak semua org bisa menyadari adanya comfort zone ini krn udah terlanjur kelindas oleh waktu dan pergerakan hidup skrg yang serba cepat. Perlu waktu buat memaknai apa yg sebenarnya kudu dilakukan saat merasakan kondisi itu. In fact, saat ini gw sendiri ngerasa gitu kok, rutinitas udah mekanistis dijalani rasanya, cuman ngerasa ada sisi lain yg tertinggal. Should take a leap to change it.
Nice posting Aal!! btw gw dah balik kantor and keep move in my still comfort zone :) |
 |

 |  |  |
rozi August 24, 2006 03:30 PM PDT
kunjungan balik belum baca semuanya lam kenal ntar aku komen lagi kalo dah bisa baca semuanya and tebak umurku berapa hehe lam kenal ya mas
BR//ROZI |
 |

 |  |  |
Fannie August 24, 2006 02:12 PM PDT
Hmm...itu tergantung kita bagaimana menjalaninya. Kita yang tahu apa yang kita inginkan dan bagaimana mencapainya. Tak apa berada di comfort zone, karena toh tak ada sesuatu yang sia sia :) |
 |

 |  |  |
Lucy August 24, 2006 01:16 PM PDT
Hmm..keknya aku dah area itu deh. Tapi gak terlena kok..Pen menjelajah lagi nih. *aku ga bisa buka blogspot di kantor. Jadi ga bisa kemana2 :( |
 |

 |  |  |
One August 19, 2006 03:22 PM PDT
"saya lah yang harus mengatur ritme hidup dan bukan hidup yang mengatur pergerakan diri kita"
You really know about live n how to live, wish can be like you... |
 |

 |  |  |
ranids August 17, 2006 02:48 PM PDT
melenakan yaa...hmmm... dgn semua keterbatasan manusia, tentunya bang Aal udah lakuin yg terbaik deh, sure! :)
ohyah, turut berduka atas berpulangnya Ibunda, Insya Allah mendapat tempat terbaik di sisiNya, amien... |
 |

 |  |  |
siwoer August 16, 2006 02:47 PM PDT
hehehe... sesuatu yang mengasyikkan pasti melenakan, dan setalah terlena, kita menjadi lupa akan hal2 yang harus dikerjakan. but that's a life :) |
 |

 |  |  |
gita August 16, 2006 12:20 PM PDT
comfort zone itu mengikuti demang manusia bang.. |
 |

 |  |  |
tobey August 16, 2006 02:01 AM PDT
hey hey hey....
wassup????
comfort zones? would anyone like to trade with mine?
*lol* |
 |

 |  |  |
riz August 11, 2006 05:19 PM PDT
sooner or later one should stay in his/her comfort zone.
and the others are the ones who should make adjustments...
-riz- |
 |