Just an Ordinary Human
|
 |
Thursday, August 21, 2008
Selamat Shaum dan Mohon maafnya
Sebentar lagi bulan puasa Saya yakin masih banyak salah dan dosa Buat teman semua, mohon dibukakan pintu maaf
U N T U K :
SALAH UCAP SALAH SIKAP
SALAH KATA SALAH TULIS
SALAH KOMENT SALAH REPLY
Semoga bulan Ramadhan tahun ini lebih baik, kita semua Diberi kesehatan dan kekuatan menjalankannya...
Amien Amien Ya Robbal Allamieenn..
Selamat menjelang ibadah Shaum Ramadhan
Posted at 11:19 am by alnash
Permalink
Tuesday, July 29, 2008
Episode Jakarta (4)-Penutup
Episode 4
Macet, polusi , jambret dan copet serta kesemrawutan mungkin kesan umum tentang Jakarta, di tambah lagi banjir untuk beberapa bulan belakangan ini, namun dibalik semua itu, sebagai seorang tenaga penjual, Jakarta adalah tempat dimana potential market berada, berpuluh puluh kantor pusat perusahaan diseluruh Indonesia bersarang disini, kantor pusat yang dihuni oleh para decision maker, mereka yang mempunyai peran menghitam dan putihkan sebuah project, orang orang yang dapat memberikan agreement tender berada tidak diluar kota ini, meski lokasi project tersebut berada nun jauh di ujung negeri.
Sekali lagi ini hanya opini saya, Jakarta adalah tempat sebuah impian tertinggi dapat kita raih, segala batas kesuksesan dari sisi materi dan performa karier untuk ukuran negeri ini ukuranmpak dari pembangunan berbasis sentralistik dari jaman orde yang sudah runtuh dan pemerataan kue kekuasaan dan keputusan yang tidak menjangkau daerah luar Jakarta, mau tak mau pemasaran yang peling memudahkan pagi pelakunya karena segala potential buyer berada didalam sebuah area berapa kilometer persegi ini.
Dalam team yang saat ini , seakan sudah menggambarkan dan menemukan ladang yang cocok berikut team yang solid didalamnya, mereka yang menjadi partner kerja bisa bahu membahu mendukung kerja dan dapat pula bekerjasama, oleh karena itu tugas berikutnya hanya lengkapilah, pertahankan dan bekerjalah sebaik yang bisa diberikan.
Banjir Jakarta kemarin menyisakan cerita tersendiri bagi saya, musibah itu membuat saya harus mencari jalan keluar seperti biasa *sendiri* ketika HP tak bisa berfungsi karena tak ada energy, charger pasangannya tertinggal di rumah yang tergenang banjir di Cengkareng, ketika orang yang saya harapkan memberikan bantuan ternyata tidak bisa melakukannya, saya mencari jalan keluarnya, menemukan Hotel di Jalan Jaksa sebagai tempat saya merebahkan badan semalam itu, menyiapkan energy untuk berfikir bagaimana dengan keadaan besok, Jalan alternatife masih digenangi banjir berikut juga jalan Tol menuju bandara yang bisa digunakan untuk menuju rumah, belum dibuka.
Episode penutup
Akhirnya, saya kembali lagi ke kostan lama, tempat pertama saya kost di Jakarta didaerah Palmerah, ke kamar yang saya tempati dulu, ketika dihantarkan sahabat baru saya untuk mencarikan kamar yang masuk akal dari segi harga namun keadaannya tetap manusiawi. Malam itu, rumah dan kamar ini saya temukan, dan malam itu juga kamar ini dibereskan, lalu langsung saya tempati, saat itu saya sudah letih harus pulang pergi Jakarta – Serang dan status pekerjaan saya pun sudah menemukan titik terang.
Jakarta sekarang sudah begitu bersahabatnya bagi saya, ibarat seorang teman dia memberikan banyak sekali kesempatan, hanya tinggal bagaimana memanfaatkan serta menggali potensi diri dan memaksimalkan semua tersebut.
Kota ini dengan segudang iming iming keberhasilan hanya bisa diwujudkan dengan kerja keras, kerja lebih keras dibandingkan kalau kita berada didaerah, bekerja dengan banyak saingan karena orang orang terbaik dikelasnya untuk ukuran Indonesia berkumpul disini.
Seperti laron, kota ini ibarat magnet yang menarik banyak manusia, dan hanya laron dengan strategi, usaha kerja keras dan keberuntungan di tangannya yang dapat bertahan untuk sampai kesumber cahaya.
Tulisan ini saya hasilkan disini, di JAKARTA tempat dimana tenaga dan waktu saya curahkan menjadi sebuah hal yang bisa termanfaatkan bagi saya dan semoga bermanfaat bagi bagi orang lain..
T E R I M A K A S I H
Posted at 04:57 pm by alnash
Permalink
Wednesday, July 23, 2008
Episode 3 Diawal tahun 2006, setelah lama dalam penantian yang tidak bersuara (karena saya tak mengatakan perihal harapan untuk jadi bagian dari Jakarta dengan cara dapat bekerja disini) akhirnya, impian itu mendekati nyata. Teringat pertama kali saya harus berganti penampilan, sehari hari sebagai tenaga kerja yang bertugas dilapangan saya bebas menggunakan T-shirt dan apapun yang ingin di gunakan, topi kupluk, sepatu kets, Jeans dan Ransel adalah pakaian saya waktu itu, lengkap dengan aksesoris seperti gelang gelang kalau atau pernik yang saya anggap unik ketika saya bertugas didaerah tertentu. Dengan cepat semua itu harus berganti dengan kemeja formal lengan panjang, celana berbahan kain dan sepatu kerja, terkadang dasi walau jarang saya pakai kalau tidak memaksa sekali seperti saat presentasi atau ketika meeting dengan client. Diawali terlebih dahulu sebagai tenaga replacer dikantor yang lama, saya senang tak terkira, walau hanya sebagai tenaga pengganti sementara untuk sebuah pekerjaan yang punya kerjaan mengambil hak cuti panjangnya, sempat saya hasilkan sebuah tulisan dimuat diblog ini yang berjudul "10 days in Heaven", saat dimana saya bekerja ditempat yang saya tunggu sebelum akhirnya saya kembali dipekerjakan di pedalaman Kalimantan untuk sementara. Masa untuk bekerja di pedalaman akhirnya benar benat berakhir ketika saya pulang dari Rig VICO di Muara badak – Samarinda itu, setelahnya episode hidup banyak berubah, bekerja di Jakarta dengan segala perjuangan dari awalnya dimulai, dengan banyak hal yang harus bisa dihadapai dan atasi seorang diri, akhirnya saya pun dapat bisa bersahabat dengan kota ini, dan menemukan banyak sahabat sahabat baru disini. Bersahabat terdengar lebih baik karena saya tidak mau menggunakan istilah "menaklukan" kota Jakarta, karena kota ini bukan musuh yang hendak saya kalahkan. Diterima disini dan akhirnya menjadi bagian daripada komunitas besar manusia yang mencari nafkah disini. Tulisan ini sama sekalli tidak memprovokasi orang agar berbondong pindah ke Jakarta, karena tanpa ada hal ini pun, setiap habis hari Raya biasanya, akan banyak gelombang pendatang baru, . Tulisan ini justru sebaliknya, saya tulis agar mereka yang merasa nyaman di kota lain dan daerah lain diluar Jakarta agar tidak tergiur dengan tampilan mewah kota ini, Jakarta bukan angle sinetron berisi kehidupan nyaman dan mudah didapat. Saya mengalami episode backpacker berpindah dari satu rumah kenalan ke rumah kenalan yang lain, tak bisa mengontrak rumah karena status replacer saya sandang dikerjaan awal, karena mereka bisa saja tidak mereka perpanjang kontrak kerja sewaktu waktu selain itu masalah financial yang belum mendukung, saya terkadang harus memaksakan untuk pulang ke Serang malam malam dan balik lagi ke Jakarta subuh berikutnya karena terpaksa. Waktu itu adalah masa awal memulai awal karier di Jakarta. Jakarta pun tidak ramah untuk mereka yang tak mempunyai bekal apa apa setidaknya bekal pertemanan dan koneksi seperti beberapa orang yang saya haturkan banyak sekali rasa terimakasih atas bantuannya selama awal awal saya di Jakarta, dan itu proses yang tidak instant terbentuknya. Maka, berbaik baiklah kepada sesama, di Jakarta atau dimanapun anda tinggal, konsep berbuat baik ini pasti tetap berlaku dimana saja, dan kita tidak akan pernah tau kebaikan kita Tuhan membalasnya melalui perantara siapa.
Posted at 04:17 pm by alnash
Permalink
Thursday, June 19, 2008

Jakarta Night View by Agung Permana
Episode 1
Akhir akhir ini, kota Jakarta semakin sering dilanda demo setelah sebelumnya lekat dengan banjir, dalam keseharian ibukota tercinta identik dengan keadaan macet dan polusinya. Dari berbagai macam manusia yang saya temui di luar kota, ketika dulu saya berkeliling Indonesia mereka mempunyai berbagai macam tanggapan dan nama ATAU identitas miring yang melekat di benaknya untuk menggambarkan tentang Jakarta.
Ada yang paranoid terhadap Jakarta karena tingkat kriminalitasnyayang tingi, seolah semuanya pasti sudah tak akan aman ketika berada diluar ruang public seperti terminal dan ketika didalam transportasi umum seperti biskota, tingkat paranoid yang tinggi ini membuatnya enggan untuk datang ke Jakarta bahkan hanya untuk berkunjung/berwisata, malah dengan lugunya dia berkata "kok kamu masih mau sih tinggal disana" Saya hanya mampu tersenyum untuk menjawab pertanyaan itu.
Lain lagi ketika saya berada di pedalaman Kalimantan, tepatnya didaerah Hulu Barito, waktu itu saya sedang mengikuti project explorasi Mapping daerah potensi Batubara di sana. Seorang crew asli dayak Bekumpai yang dekat dengan saya, selalu meminta untuk bercerita tentang segala sesuatu tentang Jakarta, apa saja. Nama Jalan, daerah daerah wisata, makanan, dan seribu satu hal yang dia ingin tau tentang Kota yang ingin didatanginya ini, dengan semangat dan mata berbinar dia menanggapi semua yang saya ceritakan, walau saya bukan seorang ahli tentang kota ini, namun semua cerita itu cukup membuat dia terkesima.
Ketika di Pedalaman Papua, bersama Otto sahabat saya didalam hutan yang selalu berkhayal dan merindukan untuk berjalan ditempat tempat malam di Jakarta, ingin merayu setiap wanita yang nanti dia temui, karena di mata Otto semua wanita Jakarta adalah cantik. Saya berusaha untuk mengembalikan khayalan dia ke alam nyata, mengatakan realita sesuangguhnya, bahwa dimana mana, perempuan ada yang bertampang cantik dan ada yang biasa biasa saja, namun tidak bagi dia, Otto lebih sering berceracau sendiri, sibuk dengan khayalannya serta rencana apa-apa saja yang akan dilakukannya nanti ketika sudah berhasil ke Jakarta, sebagian besar khayalannya itu tidak pantas di ceritkan detail disini. Dasar Otto…J

Episode 2
Bagi saya Jakarta adalah impian yang menjadi nyata, ketika masih tinggal di Serang (masa masa SMP dan awal SMA) dalam satu dua kali lawatan saya ke ibukota yang hanya berjarak 100 KM-an dari kota asal saya itu, saat melintasi gedung gedung tinggi dikawasan yang sekarang saya tau bernama Jalan Sudirman-Thamrin, diri saya membathin, tidak diucapkan kepada siapapun (oleh karena itu dinamakan membathin-karena terucap hanya didalam bathin) dikala itu, bahwa betapa enaknya bila bekerja di gedung gedung tinggi itu, dalam fikiran lugu waktu itu, pastilah manusia yang berada didalamnya adalah mereka mereka mereka yang mempunyai kepintaran dan intelegensia tinggi, para penghuni gedung yang rata rata berdasi dan perempuan modis, serta wangi. Orang orang yang beruntung versi saya ketika itu, dan berkata "Andai saya nanti bisa seperti mereka".
Impian dan khayalan ketika saya di ajak melewati kawasan gedung tinggi itu membekas, namun lamat lamat kemudian memudar seiring dengan realita yang terjadi, namun sayup pengharapan jauh didalam hati saya tetap masih ada akan terwujudnya keadaan itu.
Dan memang benar, harapan adalah doa terdalam yang di ucapkan umat tanpa bersuara. Harapan itu tak akan pernah pasti bila akan terwujud, namun dengan bantuan takdir dan nasib baik tanpa mengesampingkan usaha dan kerja keras serta hubungan baik, hal yang diharapkan tersebut bukan mustahil untuk dapat terwujud.
**** Bersambung*****
Posted at 11:49 am by alnash
Permalink
Monday, May 12, 2008
Saya punya sifat buruk yang sulit saya hilangkan, kalau disakiti saya susah untuk melupakannya. Mungkin orang bilang saya type manusia pendendam, walau dendam yang saya rasakan tersebut tdk saya lampiaskan seperti dalam film film, saya cukup hanya diam dan berusaha tidak peduli dengan hal atau individu yang menyakiti hati saya tersebut. Namun, dalam konteks hidup yang mau tidak mau kita berhubungan dengan orang lain, terkadang saya harus kembali berhubungan dengan manusia yang pernah menyakiti hati saya tersebut. Dsinilah dilemanya. Antara harus berpura pura lupa dan sudah tidak bermasalah dengan kejadian dulu itu atau sama sekali tidak mau berurusan dengan dia.
Flashback Waktu kecil dulu, ada sebuah keluarga yang menjadi tetangga saya, mereka mempunyai tiga orang anak laki laki yang usianya di atas saya. Mereka dulu adalah biang Onar, dan sering mejahili saya dengan tingkatan jahil yang lebih dari yang bisa saya terima dan toleransi. Keadaan itu membuat saya agak terbatasi bergaul dengan dunia luar, karena mereka adalah “penguasa medan” pergaulan anak anak waktu itu.
Muka mereka terrekam dalam memory saya secara dalam, kejadian berulang ulang tersebut membubuhkan cukup pegnalaman sakit hati yang membekas dan terbawa sehingga dewasa. Setiap kali pulang kePadang, secara tidak sengaja saya berpapasan dengan salah seorang dari “Trio Menjengkelkan” itu, saya ingat muka nya, namun dia tidak. Kelebatan peristiwa dulu membayang, padahal itu sudah berlalu lama sekali, seperti film tua dia diputar dengan memory yang hilang timbul.
Forgiven Not Forgotten Memaafkan perkara hati, namun melupakan perkara memory atau otak, dua organ yang berbeda dan berfungsi dengan jalannya sendiri. Yang terjadi selama ini dalam diri saya mungkin hati sudah bertindak sesuai perintah, namun memory tersebut terrekam dan pita kasetnya tidak kunjung bisa saya deleate, walau sudah saya perintahkan berkali kali.
Orang lain meminta maaf atas sebuah kesalahan akan dengan cepet saya anggukan, karena itu merupakan keharusan, apalagi kalau sudah mebawa dogma bahwa “Tuhan saja memaafkan kesalahan umatnya, kenapa saya tidak”, akan dianggap sombong sekali nanti kalau ternyata maaf itu tidak diberikan.
Berkali kali saya jejalkan perintah untuk meghapus memory itu, tapi berkali kali juga dia akan keluar, biasanya kalau saya diamkan dia akan menghilang seiring waktu, tapi akan berkelebat kembali kalau sang pembuat rasa sakit tampil didahapan saya.
Makanya..jangan sakiti hati saya ya..:) Pliss........
Posted at 06:07 pm by alnash
Permalink
Monday, April 28, 2008
Ada pemandangan aneh yang selalu saya pertanyakan dulu, ketika saya menghadiri upacara pernikahan. pemandangan yang saya maksud adalah ketika orang tua yang menangis ketika anaknya meminta restu ketika akan menikah. Waktu itu saya bertanya..."bukankah seharusnya orang itu berbahagia", walau kemudian saya sadar bahwa ada saat ketika seorang manusia betul betul berbahagia ia malah mencucurkan air mata.
Ternyata sekarang saya baru tau rasanya....bahwa melepaskan seseorang yang sangat kita sayangi untuk menjalankan hidup lebih jauh, menempuh perjalanannya sendiri tanpa mendapatkan pengawalan lagi dari diri kita juga membutuhkan kebesaran hati. melihat seorang manusia tumbuh dan kemudian menjadi indiviu mandiri adalah sebuah kisah sukses yang hanya bisa dirasakan oleh orang yang menjadi pengawalnya itu, Sang orang tua yang memberikan restu ketika anaknya memilih calon pendamping dan akhirnya melangkah pergi pasti merasakan perasaan kehilangan yang menyesesakkan itu.
Airmata yang dia curahkan pasti bukanlah air mata penyesalan, tapi airmata syukur....air mata haru...air mata doa yang tercurah karena dia menyayangi makhluk yang siap berangkat pergi tersebut.
Rasa ikhlas lah menurut saya yang akan menjadi kuncinya....dengan legowo dia melepaskan kepergiannya, karena dia pergi untuk sebuah kebaikan, tujuan kepergiannya untuk keadaaan yang lebih baik untuk dirinya...ya untuk diri nya dulu, karena untuk diri kita memang belum tentu. Tapi bukan kah essensi terakhir dari rasa cinta adalah ketika kita dapat ikhlas melepas orang yang kita sayangi untuk menjadi lebih baik lagi.
Seperti kata Pujangga besar kahlil Gibran, bahwa seoang anak manusia hampir serupa dengan anak panah, orang tua hanyalah busur dan suatu saat harus siap melepaskannya, dengan mengarahkannya kepada kebaikan, tapi sekali busur itu terlepas dia akan menjadi dirinya sendiri dan bebas melesat ke arah yang dia sendiri tuju. Sang pengawal hanya menjadi busur,setelah anak panah melesat, busur akan tergeletak danhanya dapat menyaksikan lesatan sang panah menuju puncak.
Iya..iyaa.. Akhirnya... kini saya baru dapat mengerti makna tangisan ibu di pernikahan tersebut.
Posted at 04:23 pm by alnash
Permalink
Monday, April 14, 2008
Launching Novel:7 Hari Terakhir

Hari minggu kemarin (30/3/08) akhirnya acara itu berlangsung juga, launching dan Bedah Buku dari Novel yang selama ini sudah mengendap didalam perut laptop saya selama hampir 4 tahun. Atas kebaikan dan partisipasi teman teman dikampus dan teman angkatan yang mendorong terbitnya Novel tersebut.
Novel Pertama dan yang diharapkan dapat menjadi pembuka untuk karya yang lebih baik dimasa depan. Setelah mengalami masa masa penolakan dan juga masa frustasi akhirnya Novel tersebut mentas juga. Benar seperti apa yang pernah saya baca, *dari tulisan Rio kalau ga salah* Bahwa proses lahirnya karya tulis itu seperti melahirkan seorang anak, setelah dia lahir nasiblah yang akan menentukan peruntungannya.
Novel yang berjudul “7 HARI TERAKHIR” masih diterbitkan dalam edisi terbatas, karena alasan klasik yaitu dana maka hanya di cetak untuk konsumsi kampus, menunggu tawaran dan ajakan serta minat dari penerbit sesungguhnya.
Untagmedia sebagai penerbit awal hanya memfaslitasi dalam beberapa puluh exmplar saja. Tetap bersyukur atas segala dukungannya.
Saya berterimakasih untuk teman angkatan saya, Anto, Annas, Rutma, Isna, Deasy dan yang lainnya. Jga dosen pembimbing Ibu eko yang memberikan supportnya.DQ for cover design. dan semua pihak yang membantu.
Semoga Novel ini mendapat peruntungannya yang lebih baik lagi.
Berikut photo photo yang merekam acara sederhana kami ketika melakukan acara tersebut.
Posted at 10:38 am by alnash
Permalink
Thursday, April 03, 2008
Kantor sedang sepi sebagian besar penghuninya keluar untuk melihat calon lokasi baru. Saya mau bercerita…. Hati saya sedang senang saat ini (karena sesuatu yang baik harus dibagikan) maka saya akan membagikan kisahnya. Jadi tulisan ini adalah perpaduan antara suasan hati yang sedang senang dan kantor yang sepi mendukung untuk membut sebuah tulisan.
Begini cerita nya…
Rabu malam, mbak boss tercinta mengirimkan SMS, untuk meminta saya untuk menggantikan posisinya menghadiri presentasi kesehatan terkait dengan peringatan TB day, yang jatuh [ada tanggal 24 kemarin, TB day alias Tuberculosa day diperingati untuk memberikan awarnss kepada kita semua bahwa bahaya TB sangat mengancam kehidupn kita yang tinggal dinegara dunia ketiga ini.
Lha..kenapa saya senang..karena saya bisa berkeliling ke berbagai pelosok lagi, seperti saat dulu dan kali ini walau hanya berlokasi di kaki gunung Salak-Sukabumi dan daerah Darajat-Garut dapat membayar sedikit kerinduan akan saat saat travel keliling Indonesia.
Alhasil.. Rabu siang saya sudah nongkrong di Starbuck TIS tebet menunggu client yang akan mengadakan acar tersebut sebagai penyedia jasa saya membawa seorang dokter paru yang cukup “gaul”.
Selepas dari Jakarta, sampai ke Salak sudah gelap, jam 7 malam sampai di masshall, dan (kembali) makan di meshall alias kantin perusahaan. Malam berisitrahat di Salak dan paginya kegiatan dilakukan..
Acara di salak dari jam 7 sampai 10 siang, sukses dengan peserta memenuhi ruang pertemuan client yang menjadi pemasok gas alam ke PLTU Salak. Lanjut ke garut melalui jalan raya yang ditumbuhi oleh kebun the, melewati kota kota seperti Sukabumi, Cianjur dan beberapa daerah kecamatan kecil lain yang saya lupa nama nya.
Sesampai di garut jam 5 sore, hampir seharian kita diperjalanan, dan hanya berhenti sebentar di RM jalan raya Sukabumi Cianjur. Didalam mobil dikabarkan oleh mbak Dwi sebagai fasilitator, bahwa kitaakan menginap di Sumber Aala, Cottage yang bagus di kota garut terletak di daerah Cipanas Diceritakan bahwa nanti akan ada kolam pemandian air panas dan bisa berendam sepuasnya.
The Cottage Sumber Alam Ternyata cottage nya sangat bagus, ruang atau kamar yag disediakan sangat luas dan private, terletak diatas kolam kolam yang didesain dengan konsep pedesaaan. Saya betah disana. Kamar tidur terletak dilantai atas dan ada 1 kamar tidur utama dan 2 tambahan, di bawah ada ruang TV dan satu kamar mandi yang terdapat bathtub ukuran besar. (ini yang dimaksud berrendam sepasnya, karena klau kolam renang umum nya hanya buka sampai jam 10 malam).
Dikamar yang luas dan besar itu saya sendiri bayangkan kita tidur diatas rumah pedesaan yang dikelilingi oleh sungai, terdengar gemericik air, ketikaq membuka jendela sudah akan terlihat bunga teratai dan tumbuhan air lainnya. Alhasil malam itu, setelah makan di Pujasega dan makan makanan sunda serta minuman aneh (es pasminah dll) acara dilanjutkan dengan berenang dikolam umum sampai tutup dan dilanjutkan dikamar bathtub sampai bosan.
Pagi hari setelah segar dan sarapan, melanjutkan acar presentasi hari terkahir , kali ini dikaki gunung Darajat. Acara dari jam 9 sampai 11 siang, karena menyesuaikan dengan waktui shalat jumat kita harus buru buru ke daerah kota Garut.
Oleh oleh Dalam perjalan pulang, sempat mampir beli oleh oleh seperti Batik Garut, modelnya kontemporer, bisa jadi kemeja kerja dan juga kain batik yang siap jahit buat nyokap.
Oleh oleh makanan juga tidak lupa. Dododl masuk dalam menu utama, dari dodol coklat, wijen, kentang ubi dll.Beli keripik kulit dan juga keripik bawang..
Begitulah cerita jalan jalan sambil kerja di Salak Sukabumi dan darajat garut kemarin. Poto dan gambar suasana lainnya ada di sini dan sini.
Posted at 12:37 pm by alnash
Permalink
Wednesday, March 26, 2008
Everybody loves chocolate
Ya, semua orang kalau ditanya pasti akan menjawab “saya suka coklat”. Termasuk saya, saya sering merayakan sebuah moment dalam hidup dengan sebatang coklat. Sebagai rasa syukur atas sebuah karunia dan rejeki biasanya saya akan membeli coklat, pun ketika saya sedang tidak dalam keadaan yang baik, seperti sedang medapatkan masalah atau sedang kesal terhadap seseorang atau sesuatu, sebatang coklat cukup bisa jadi obatnya.
Coklat bagi saya adalah sebuah terapi, tempat untuk merayakan sedih dan senang dengan diri saya sendiri.
Hal ini saya ceritakan, agar mereka diluar sana yang membaca tulisan ini, dapat mengambil essensinya bahwa orang lain tidak selalu ada disamping kita dalam suka ataupun duka, karena bergantung kepada orang lain sebagai sumber pembangkit semangat atau kawan pembagi kesedihan tidak bisa selalu diandalkan. Saya tidak menganjurkan menjadikan benda mati sebagai teman setia, namun membuat suasan yang biru tidak menjadi tambah kelabu atau suasan riang bisa dirayakan dengan lebih tenang.
Coklat Jawabannya.
Secangkir coklat sering saya baw disore hari ketika melihat mentari senja siap masukan ke balik bumi, disana di ujung timur Indonesia, saat dulu ketika bermil mil saya dijauhkan dengan orang orang yang saya kenal dan cintai di pulau jawa.
Sebatang coklat saya akan bawa kepedalaman Kalimantan sebagai bekal kalori jaga jaga kalau support makanan untuk team ekspedisi datang terlambat ditengah pedalaman Kalimantan tengah, 3 hari dari camp terdekat dan tidur di fying camp yang kita dirikann bersama. Coklat yang karena persediaanya terbatas hanya saya makan sendiri dan dalam keadaan diam diam, sekotak untuk sehari dan sebatang coklat sebagai tanda bahwa sudah seminggu pula saya melewatkan hari ditengah hutan perawan Kalimantan itu.
Saat ini, coklat yang dapat saya temukan disetiap mall yang mengepung Jakarta, tidak lagi menjadi benda keramat yang harus saya makan dengan perlahan seperti yang saya lakukan didalam hutan. Keberadaannya kadang sudah terlupakan digantikan dengan hal lain yang terkadang lebih menyita perhatian ketika euphoria hidup ada disekitar.
Sore ini kembali mata saya melihat teman sendiri saya tersebut. Ya sebatang coklat sore ini saya beli sehabis gajian. Gaji yang sudah jelas takaran dan peruntukkkannya, sore tadi disiishkan sedikit untuk beberapa batang coklat, dari tingkatan Silver Queen sampai beberapa kakak kelasnya yang agak lebih mahal, namun mata saya tertegun dengan bentuk coklat yang didalam bungkus dengan sangat bagus, namun niat saya tercekat, ludah saya telan karena melihat harga nya. Hampir seratus ribu rupiah untuk kurang dari 10 isi coklat didalam kotak tersebut yang masing masing ukurannya mungkin hanya sebesar ibu jari tangan saya. Dalam hati berkata “Ah sudahlah, itu makanan untuk nanti ketika saya sudah menjadi teramat kaya.
Harapannya, semoga ketika saat itu tiba, keinginan saya tetap sederhana.
Posted at 10:44 am by alnash
Permalink
Thursday, March 06, 2008
Kemarin mengalami musibah kecelakaan lalulintas di Jalan raya daerah cengkareng. Hujan masih turun dan jalanan basah. Saya mau berbelok ke arah perumahan, dan tiba tiba ban depan motor yang saya kendarai ternyata tergelincir begitu saja di jalan raya itu. Dalam kondisi kecepatan yang termasuk rendah, saya terjatuh karena belokan terlalu tajam dan jalanan yang sangat licin.
Hasilnya : telapak tangan kiri yang agak parah, kulitnya mengelupas, sedangkan kedua dengkul hanya lecet, terselamatkan karena saat itu saya menggunakan celana jeans yang agak tebal.
Hari ini masuk kerja siang, dbadan saya sakit sakit semua, tangan berbalut, jalan masih terasa sakit. dan yang paling tidak enak. Keberangkatan saya ke Banjarmasin di cancel karena musibah ini. Ga enak sama client yang sudah janji dari minggu kemarin.
Duhh..musibah..ada ada aja...
Posted at 11:13 am by alnash
Permalink
|